TEKNIK
PENULISAN LAPORAN HASIL PENELITIAN
MAKALAH
Mata Kuliah: Karya Tulis Ilmiah
Dosen Pengampu: M.
Rikza Chamami, MSI

Disusun Oleh:
Wirda Nurfitriana (123311040)
Lutfiana
Irmayani (123311042)
Moh.
Oktariyanto (123311043)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
I.
PENDAHULUAN
Pada
mulanya penelitian merupakan penyaluran hasrat keingintahuan terhadap sesuatu.
Sesuatu itu adalah gejala-gejala alam, atau gejala-gejala perilaku manusia,
atau gejala-gejala pemikiran dan kerohanian. Gejala-gejala itu, secara
keseluruhan adalah kehidupan ciptaan tuhan. Selanjutnya penelitian itu menjadi
kegiatan ilmiah, yang memiliki cakupan tersendiri dan berhubungan dengan
kegiatan lainnya.
Penelitian
memiliki berbagai perlengkapan, yang secara garis besar terdiri atas
unsur-unsur informasi dan unsur-unsur metodologi. Penelitian dilengkapi dengan
unsur-unsur informasi tentang sesuatu itu yang beraneka ragam dan hirarkial,
dari yang kongrit sampai yang abstrak; mulai dari gejala dan fakta sampai
konsep, hipotesis, dan teori; bahkan, hukum teori dan dalil. Ia juga dilengkapi
dengan berbagai metode pada tiap tahapan kegiatan, sehingga menjai cara kerja
ilmiah yang memilik tarap ketepatan dan kecermatan yang tinggi. Akhirnya, ia
menjadi pranata sosial dalam memenuhi salah satu kebutuhan manusia dalam
pergaulan hidup mereka. Ia menjadi tulang punggung dalam pengembangan
pengetahuan ilmiah dan dapat menyumbangkan jasa bagi kehidupan manusia.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A. Apakah Pengertian Laporan Hasil Penelitian?
B. Apa Tujuan Laporan Hasil Penelitian?
C. Bagaimana Ruang Lingkup Laporan Hasil
Penelitian?
D. Apa saja Langkah Penyusunan dalam
Laporan Hasil Penelitian?
E. Berikan Contoh Laporan Hasil Penelitian?
III.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Laporan Hasil Penelitian
Penelitian
adalah suatu proses, yaitu suatu rangkaian langkah yang dilakukan secara
terencana dan sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu.[1]
Secara umum metode penelitian
diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan
dan kegunaan tertentu.[2]
Laporan
penelitian adalah uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses kegiatan
penelitian. Dengan demikian isi laporan penelitian bukan hanya tentang
langkah-langkah yang telah dilalui oleh peneliti saja tetapi juga latar
belakang permasalahan, kerangka berfikir, dukungan teori, dan yang lain
sebagainya yang bersifat memperkuat makna penelitian yang dilakukan.[3]
Terdapat
empat kata kunci yang diperlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data,
tujuan, kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan
penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris,
dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan
dengan cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris
berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia,
sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis
artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah
tertentu yang bersifat logis.[4]
Hasil penelitian adalah bagian yang pokok dalam suatu laporan penelitian.[5]
Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian laporan hasil
penelitian ialah suatu karangan yang menguraikan secara lengkap tentang
proses dan hasil yang diperoleh dari penelitian.
B. Tujuan Laporan Hasil Penelitian
Setiap
penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu. Secara umum tujuan
penelitian ada tiga macam yaitu yang bersifat:
1. Penemuan,
berarti data yang diperoleh dari penelitian itu adalah data yang betul-betul
baru yang sebelumnya belum pernah diketahui
2. Pembuktian,
berarti data yang diperoleh itu digunakan untuk membuktikan adanya
keragu-raguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu
3. Pengembangan,
berarti memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
Melalui penelitian manusia dapat
menggunakan hasilnya. Secara umum data yang telah diperoleh dari penelitian
dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi
masalah. Memahami berarti menjelaskan suatu masalah atau informasi
yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu, memecahkan berarti
meminimalkan atau menghilangkan masalah, dan mengantisipasi berarti
mengupayakan agar masalah tidak terjadi.[6]
Ada beberapa tujuan lain yang telah
dikemukakan, bahwa secara garis besar tujuan penelitian dapat dibedakan menjadi
tiga menurut pihak yang memanfaatkan hasilnya. Ketiga pihak dimaksud adalah:
1. Para Ilmuan, karena dengan penemuan
melalui penelitian maka khasanah ilmu pengetahuan akan bertambah luas.
Penambahan ilmu berarti bertambah pula tempat berpijak bagi mereka dalam
mengembangkan pengetahuan lebih lanjut.
2. Pemerintah, atau pengambilan
kebijaksanaan yang lain. Informasi yang diperoleh dari penelitian akan
bermanfaat bagi penentuan kebijaksanaan sehingga daya dukung kebijaksaan
tersebut cukup kuat karena berupa data actual berupa laporan hasil penelitian.
3. Masyarakat luas baik secara perseorangan
maupun kelompok. Adanya informasi dari penelitian inilah maka kehidupan manusia
menjadi lebih sempurna dan dipermudah. Ingat penemuan listrik, telepon,
plastic, dan sebagainya yang jelas-jelas mempermudah kehidupan manusia.[7]
C. Ruang Lingkup Laporan Hasil Penelitian
1. Pembuka (Prefatory Pages)
Bagian pembuka laporan
hasil penelitian sebagai berikut:
a. Halaman Judul (Title Page)
Halaman
ini selain memuat judul, dilengkapi juga dengan nama peneliti arau nama-nama
tim peneliti. Biasanya dibuat dua halaman, terdiri dari satu halaman tebal
(kulit luar laporan) dan halaman tipis (kulit dalam laporan). Sering juga di
bagian bawah halaman dicantumkan lembaga (institusi) atau penerbitan yang
mencetakannya (kalau dicetak).[8]
b. Halaman pengesahan (Authorization)
c. Halaman keterangan dari si Peneliti (Certification
of Statement)
d. Kata Pengantar (Acknowledgement)
Halaman
ini dapat berisi sedikit uraian tentang isi laporan ( kalau dipandang perlu).
Isinya yang selalu diketengahkan adalah ucapan terima kasih pada berbagai
pihak, baik yang membantu maupun pihak yang berhubungan dengan tempat
penelitian. Disamping itu dipergunakan juga untuk berbasa-basi mengenai
kelemahan dan kekurangan yang mungkin terdapat di dalam laporan. Bersamaan
dengan itu disampaikan juga harapan memperoleh masukan, berupakritik dan
sran-saran dari pembaca. Dibagian akhir dicantumkan nama kota, tanggal, bulan,
dan tahun serta nama peneliti/tim peneliti, sebagai penutup kata pengantar.
Pada bagian bawah halaman kata pangantar dicantumkan nomor halaman, dengan
mempergunakan angka Romawi kecil ( ii, iii, iv dan seterusnya). Nomor halaman
sudah dihitung sejak halam kulit laporan, meskipun tidak dicantumkan. Permulaan
menuliskan nomor tersebut adalah di halaman bawah kata pengantar, meskipun
tidak dimulai dengan angka satu Romawi (kecil).[9]
e. Daftar Isi (Table of Content)
Daftar isi dibuat paling akhir setelah selesai
mengetik seluruh halaman laporan, karena isinya bermaksud memberikan petunjuk
Bab atau suatu Sub bab, atau pada halaman berupa suatu topik dibahas. Namun
penempatannya di bagian depan laporan setelah Kata Pengantar. Oleh karena itu
halamannya melanjutkan angka Romawi (kecil). Pembuatannya tidak berbeda dengan
pembuatan daftar isi sebuah buku, sehingga mudah ditemukan contohnya.
Di
bagian bawah setelah mengetik bab terakhir, biasanya diketik juga petunjuk
untuk bagian akhir laporan antara lain berupa petunjuk daftar lampiran, jika
cukup banyak dapat dibuat tersendiri, dan jika sedikit dapat langsung diketik
secara urut dibagian bawah atau setelah kalimat lampiran-lampiran.[10]
f. Daftar Tabel (List of Tables), Daftar
Gambar (List of Figures)
Daftar-daftar
ini hanya dibuat kalau didalam isi laporan hasil penelitian memang ada tabel,
grafik, atau gambar. Pada daftar isi sebagai penunjuk halaman, penempatannya
dilakukan secara berurutan setelah penunjuk halaman daftar isi. Sedang
daftarnya dibuat secara terpisah atau satu-persatu dengan ditempatkan setelah
halaman daftar isi. Penomoran halaman masih melanjutkan nomor halaman
daftar isi, dengan mempergunakan angka
Romawi (kecil).
Pembuatan
tabel, grafik, dan penempatan gambar serta cara memberikan urutan nomornya
berikut judulnya masing-masing, perlu dipelajari dari buku-buku yang khusus
untuk itu, baik buku statistik maupun buku metode penelitian.[11]
2. Bagian Isi (Body of Report)
a. Pendahuluan (Introduction)
b. Tinjauan Pustaka atau Kerangka
Teoritik-Hipotesis (Literature Review/Theoritical Framework-Hypotheses)
c. Metodologi (Methodology) yang
mencakup : Metode Penelitian (Research Method), Sampel dan Pengumpulan
Data (Sample & Data Collection). Pengembangan Instrument Penelitian
(Development of Research Instrument), Uji Reliabilitas dan Validitas (Relebility
& Validity Test). Operasionalisasi Variabel atau Devinisi Operasional (Operationalization
of Variabel)
d. Metode Analisis Data (Data Analysis)
e. Hasil dan Pembahasan (Results/Findings
& Discussions)
f. Kesimpulan (Conclusions)
g. Implikasi Manajerial (Managerial
Implication) dan Implikasi Teoritik (Theoritical Implications)
h. Keterbatasan Penelitian (Limitations)
3. Bagian Lampiran (Appendices Section)
a. Kuesioner (Questionnaire)
b. Hasil Perhitungan Statistik (Jika perlu
saja atau Hanya bagian-bagian tertentu yang dianggap penting)
c. Daftar Pustaka (Bibliography)
d. Daftar Referensi (References)[12]
D. Langkah Penyusunan dalam Laporan Hasil
Penelitian
Untuk
menunjang efektifitas dan efisiensi penyusunan suatu laporan penelitian atau
karya ilmiah memerlukan persiapa dan menempuh langkah-langkah tertentu. Secara
garis besar langkah-langkah dalam menyusun laporan penelitian adalah sebagai
berikut:
1. Membuat Draft Laporan
Dalam
penulisan suatu karya ilmiah biasanya dicantumkan berbagai ide atau pendapat
teoritis yang diambil dari berbagai literature. Untuk kepentingan ini biasanya
penulis mengadakan berbagai studi literature dari berbagai bahan kepustakaan,
membaca bagian-bagian penting dari suatu buku yang berhubungan dengan
penelitian dan mencatat intisari serta mengutip bagian-bagian tertentu.
Pada
bagian suatu laporan, biasanya bahan informative-teoritis serta analisis
penulis tentang bahan-bahan tersebut, dibuat sebelum dilakukannya penelitian
ataupun sesudah pengolahan data. Dalam melakukan kegiatan pengumpulan dan
pemrosesan data, agar efisien dapat mengklasifikasikan cacatan sesuai dengan
outline, serta menulis berbagai penjelasan, ide dan penafsiran yang akan dibuat
dalam laporan. Hal ini dapat membantu dalam menyusun laporan penelitian.
Setelah seluruh kegiatan penelitian selesai, draft laporan segera dapat
disusun.[13]
2. Merevisi Draft Laporan
Sebelum
silakukan pengetikan terhadap naskah laporan atau karya ilmiah, peneliti harus
membaca kembali manuscript atau naskah secara kritis, dan mengadakan perbaikan
seperlunya. Perbaikan suatu naskah biasanya dilakukan hanya pada bagian
tertentu saja yang dianggap perlu. Hal itu tidak memakan waktu yang cukup
banyak bila pembuatan naskah dilakukan pada kertas lepas-lepas, sehingga pada
bagian yang harus diperbaiki itu dengan mudah dapat segera dilakukan
perbaikannya.
Ada
baiknya dalam merevisi suatu naskah, penulis tidak hanya membacanya sendiri,
tetapi bila memungkinkan dibacakan oleh kolega atau teman sejawat secara
kritis, sehingga kritiknya lebih obyektif. Bila hal itu tidak memungkinkan,
bacalah sendiri naskah itu sendiri seolah-olah naskah yang dibacanya adalah
hasil karya orang lain. Setelah itu barulah diadakan perbaikan seperlunya.
3. Mentik Laporan atau Karya Ilmiah
Apabila
draft sudah direvisi dan diadakan perbaikan seperlunya, barulah naskah yang
disusun ditik sesuai dengan kebutuhan. Untuk suatu skripsi atau thesis,
biasanya jumlah kebutuhan banyak tulisan.
Petunjuk teknis mentik
laporan atau karya ilmiah adalah sebagai berikut:
a. Laporan ditik pada kertas HVS, folio (22
x 35 cm) atau kuarto (21,5 x 29) cm, dengan tindisan pada kertas doorslag
(tipis) sebanyak yang dibutuhkan.
b. Adakalanya naskah tidak ditik bertindisan
melainkan dibuat dalam stensil sheet untuk diperbanyak dengan stensil, atau
naskah asli diperbanyak dengan fotocopy.
c. Pengetikan dilakukan dengan mengosongkan
± 4cm, pada bagian atas dan kiri kertas sebagai margin, dan mengosongkan
sebelah kanan dan bawah.
d. Setiap bab dimulai pada halaman baru.[14]
E. Contoh Laporan Hasil Penelitian
Makalah
kami disini mengambil contoh laporan hasil penelitian dari salah satu skripsi
mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang berjudul Peranan Pondok
Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal dalam Pembinaan Akhlak Santri.
Laporan
ini menganalisis tentang wujud pembinanaan, faktor pembinaan pondok pesantren
terhadap santri dan keadaan para santri.
1.
Pembinaan akhlaq santri secara kolektif.
Pembinaan
santri di pesantren Roudhotul Muta’allimin ini dapat dikategorikan sebagai
pembinaan kepribadian. Sedangkan pembinaan akhlak dapat diwujudkan dalam
pembinaan kepribadian. Adapun wujud pembinaan akhlaq (kepribadian) yang
diupayakan oleh pihak pesantren Roudhotul Muta’allimin ini diantaranya :
a. Keadaan kesadaran beragama
Pembinaan
ini dilakukan agar mampu meneguhkan para santri sehingga mereka dapat mengerti
akan nilai-nilai kebenaran dan menjauhi
perbuatan yang salah, agar mendapatkan keteguhan iman dan berbekal pengetahuan
keagamaan diharapkan membentuk mereka menjadi manusia yang berakhlaq mulia.
Pondok
pesantren Roudhotul Muta’allimin berusaha kuat membentuk kepribadian dan
memperbaiki akhla santri dengan menggunakan terapi keagamaan.[15]
Adapun
kegiatan-kegiatan pembinaan kesadaran beragama yang diupayakan oleh pesantren
Roudhotul Mu’allimin meliputi :
1) Sholat berjama’ah
Sholat
berjama’ah diwajibkan bagi para santri dari waktu shubuh sampai isya’.
Relevansi kegiatan ini dengan pembinaan akhlaq para santri adalah terkait
dengan tujuan pembinaan santri, yakni meningkatkan iman dan taqwa.
Ketika
tiba waktu sholat maka para santri bergegas pergi ke mushola untuk sholat
berjaa’ah.
2) Siraman Rohani Rutinan
Siraman
rohani yang dimaksud adalah ceramah keagamaan yang rutin disampaikan setiap
hari malam jum’at setelah sholat shubuh maupu maghrib sebelum kegiatan mengaji
dimulai.
Menurut
penulis siraman rohani ini merupakan salah satu proses pembentukan pengertian,
sikap dan minat serta penanaman nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran
agama
a) Subjek dan objek
Siraman rohani di
sampaikan oleh KH. Ahmad Fathoni maupun ustadz Ridwan. Kegiatan ini wajib
diikuti oleh seluruh santri, serangkaian dengan kegiatan sholat berjama’ah.
b) Materi
Adapun materi yang di
sampaikan dalam siraman rohani ini lebih banyak tentang akhlaq yang harus
dimiliki oleh seluruh santri. Meliputi etika berbahasa santun, berpakaian yang
islami, maupun lainnya.
c) Proses
Seusai jama’ah sholat
shubuh dan maghrib malam jum’at, para santri berkumpul di aula mushola, model
ceramah yang di sampaikan seperti halnya model ceramah umum di
masyarakat,dengan bahasa indonesia dan diselingi dengan bahasa jawa kromo,
sehingga komunikasi terkesan akrab dan mudah diterima.[16]
3) Pembinaan qur’ani
Pembinaan
qur’ani adalah pembinaan dengan metode pembiasaan santri untuk membaca
al-qur’an yang langsung berhadapan dengan ustadz. Kegiatan ini dilaksanakan
tiap hari pada waktu setelah jama’ah subuh dan setelah jama’ah sholat magrib
bersama.
a) Subyek dan obyek
Kegiatan
pembinaan qur’ani ini terbagi dua kelompok, yani kelompok juz ‘amma dan
kelompok al-Qur’an. Pada waktu ba’da shubuh para santri yang masih dalam tahap
dasar akan di klasifikasikan pada kelompok juz ‘amma, yang diampu langsung oleh
ustadz Sholahudin. Sedangkan para santri yang sudah mampu secara baik dalam
membaca al-Qur’an masuk pada kelompok al-Qur’an, yang diampu oleh ustadz Ridwan.
b) Materi
Materi
pembinaan Qur’ani di sesuaikan dengan kemampuan anak dalam membaca al-Qur’an,
sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan.
c) Proses
Proses
dalam pembinaan ini dilakukan dengan cara santri menghadap langsung untuk
membaca al-Qur’an(sorogan) pada ustadz yang telah ditentukan.
d) Pembinaan kajian kitab kuning.
Pembinaan
kajian kitab kuning yang dimaksud adalah mengkaji literatur kitab karangan
ulama-ulama terdahulu untuk di pelajari.
(1) Subyek
Subyek
dalam pembinaan ini adalah seluruh santri, pengurus maupun non-pengurus. Hal
ini adalah saah satu ciri proses pembinaan yang ada dalam pesantren, sehinga
pembinaan kajian itab kuning wajib diikuti oleh semua elemen yag ada di
pesantren.[17]
(2) Materi
Materi
yang dikaji dalam pesantren ini ada dua kategori tingkatan, yaitu tingkatan ibtida’ dan tingkatan
jurumiyah. Tingkat ibtida’ mengkaji pada ilmu fiqh jawan dan ta’lim
muta’alim. Seangkan tingkat jurumiyah mengkaji pendalaman ilmu nahwu dan
shorof. Sedangkan ilmu tajwid di kaji pada kedua tingkat tersebut secara
kolektif.
(3) Proses
Para
santri diwajibkan mengiuti kegiatan kajian kitab kuning yang berlangsung mulai
dari jam 15.30-17.00 WIB, dan dilanjutkan pukul 20.00-21.00 WIB, sistem yang
digunakan yaitu sorogan dan bandongan.
e) Pembinaan peringatan hari besar islam
Peringatan
hari besar Islam merupakan salah satu pembinaan yang bertujuan agar para santri
dapat mengambil hikmah dan memahami apa-apa yang terkandung dalam perigatan
tersebut.
Kegiatan ini
dilaksanakan pada waktu tertentu berdasarkan hari peringatan tersebut dalam
setiap tahunnya, sehingga pesantren menyesuaikan dengan situasi dan kondisi
kegiatan ini meliputi: peringatan maulid Nabi saw, Isra’ Mi’raj, Idul Adha dan
Nuzulul Qur’an.
(1) Subyek
Semua
santri baik pengurus atau non pengurus. Penceramah dalam kegiatan ini biasanya
dari tokokh masyarakat maupun ulama’
(2) Materi
Materi-materi
dalam kegiatan ini adalah mengenai aqidah (Nuzulul Qur’an) Ahklaq (Maulid Nabi
saw), hukum islam Isra’ Mi’raj) maupun
berqurban (Idul adha) sesuai dengan hari peringaan tersebut.[18]
(3) Proses
Semua
kegiatan hari besar islam tersebut dilaksanakan dengan diadakan pengajian umum
yang melibatkan seluruh santri dan masyarakat sekitar . proses pengajiannya
berupa ceramah tanpa ada tanya jawab.
f) Pembinaan kebersihan
Pembinaan
kebersihan yang dimaksud adalah kegiatan kebersihan yang dilakukan oleh para
santri secara bersama-sama. Pembinaan ini dilakukan agar para santri dapat
mengerti pentingnya menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat sebagai
bekal hidup di masyarakat.
(1) Subyek
Seluruh
santri diharapkan mengikuti kegiatan ini, kegiatan ini dioordinasi oleh ketua
kamar masing-masing dan di laksanakan secara bersama-sama.
(2) Materi
Kebersihan
ini biasanya dilakukan pada fasilitas umum yang terdapat dipesantren, terutama
fasilitas yang digunakan oleh para santri, seperti kamar mandi dan mushola.
(3) Proses
Pembinaan
ini dilaksanakan setiap dua minggu sekali tiap hari jum’at pukul 05.30-06.30
WIB dengan cara membersihkan pesantren.
(4) Pembinaan mengintegrasikan dengan
masyarakat
Pembinaan
ini sering disebut dengan pembinaan kehidupan sosial kemasyarakatan dengan
tujuan agar para santri mampu bersosialisasi
dngan masyarakat ketika kembali ke lingkungannya. Hal ini dibuktikan
dengan adanya para santri yang ikut gotong royong atau kerja bakti yang dicenangkan
oleh masyarakat.[19]
(5) Pembinaan bahasa krama
Pembinaan
bahasa krama yang diwajibkan kepada santri ini berupa pembiasaan santri agar
selalu menggunakan bahasa krama dalam berinteraksi dengan sesama, pengurus,
ustadz, kyai, dengan tujuan agar mereka memiliki etika yang baik dalam
keseharian. Oleh sebab itu, para santri akan terbiasa menggunakan bahasa krama
dalam proses interaksi sehari-hari.
2. Faktor-faktor
pembinaan secara kolektif
Pembinaan
akhlak santri yang dilakukan secara kolektif dipesantren ini disebabkan oleh
bebarapa faktor, sebagai berikut :
1. Tempat yang terbatas
Keterbatasan
tempat merupakan faktor kesulitan dalam pembinaan akhlak di pesantren ini
berdasarkan klasifikasi yang ada. Tempat pembinaan melalui kajian kitab kuning
dan pembinaan Qur’ani yang sering dipakai adalah mushola, rumah pengasuh dan
ruang belajar.
2. Pembina yang terbatas
Pembinaan
santri dilakukan secara seragam karena kurangnya ustadz yang mengampu kajian
kitab, sebab kajian yang dilakukan selama ini lebih disesuaikan kapasitas kemampuan
dan klasifikasi santri. Sehingga jadwal kajian yang dimiliki cenderung lebih
dari satu, namun hal ini tidaklah mengurangi kemampuan ustadz dalam memberikan
keilmuannya terhadap santri, selain disebabkan masih minimnya jumlah santri
yang belajar dipesantren ini sehingga pembinaan santri dilakuan secara kolektif
3. Waktu yang terbatas
Waktu
yang terbatas merupakan salah satu faktor penyeragaman , sebabnya sulitnya
efisiensi waktu yang dijadwalkan oleh pesantren. Hal ini disebabkan adanya
kegiatan santri diluar kewajiban pesantren, yakni sekolah pagi atau formal.
4. Latar belakang budaya yang relatif sama
Tingkat
pendidikan santri dipeantren ini meskipun beragam, akan tetapi secara umum
dapat diklasifikasikan dalam kategori tingkat pendidikan menengah dan secara
budaya memiliki kesamaan yakni budaya jawa.[20]
Dari
faktor diatas, penulis berpendapat bahwa pembinaan akhlak santri secara
kolektif yang meliputi pembiasaan dan kajian kitab kuning maupun Qur’ani ini
dilakukan oleh pihak pesantren sudah maksimal, dengan melihat kondisi santri
yang ada. Selain itu, pembinaan ini tidak hanya dilakukan pada beberapa tahun
terakhir ini, tetapi juga tahun-tahun sebelumnya. Dikarenakan santri yang mukim
di pesantren ini silih beganti.
3.
Keadaan akhlak santri
Dalam
konsep islam, bahwasanya pengertian pendidikan mencangkup tiga pengertian,
yakni tarbiyah, ta’lim, ta’dzib, sehingga subyeknya disebut murabbi (memiliki
sifat dan tanggung jawab), mu’allim (memiliki ilmu), muaddib (amaliyah atau
akhlak). Hal ini juga menjadi salah satu tujuan pembinaan akhlak santri di
pesantren roudhotul muta’allimi, yakni berilmu, beradab dan meningkatkan akhlak
santri. Bahwasanya, proses pembinaan akhlak santri berhubungan dengan hasil
pembinaan akhlak yang telah dilakukan oeh pihak pesantren ini, dimana akhlak
santri dapat tercermin dalam lesehariannya. Secara umum para santri di
pesantren Roudhotul Muta’allimin ini
telah memiliki sikap dan perilaku secara baik dan santun. Hal ini
tercermin dalam sikap dan perilaku para santri yang rajin mengikuti sholat
berjama’ah, berpuasa di bulan Ramadhan, memahami serta mengimplementasikan
ajaran islam dan kebiasaan berbahasa krama dalam komunikasi kesehariannya.
Adapun mengenai akhlak kepribadian dengan integrasi masyarakat juga telah
tercermin pada perilaku sikap santri, semisal bersikap ramah, peduli sesama,
berhubungan baik dengan tamu, berbusana santun dan menjaga amanah, serta
mematuhi peraturan-peraturan yanag telah diterapkan dalam pesantren agar kelak
santri dapat berperilaku baik dan santun ketika hdup di masyarakat. Seain itu
santri memiliki keilmua keagamaan yang cukup untuk bekal dalam kehidupan
nantinya, baik meliputi keilmuan tauhid (teologi islam), fiqh (hukum islam),
tasawwuf (filsafat islam) maupun keilmuan akhlak (etika islam) sehingga para
santri dapat menerapkan tiga pilar pendidikan islam yang meliputi ta’lim,
tarbiyah, dan ta’dzib dalam kehidupan sehar-hari.[21]
IV.
KESIMPULAN
A. Pengertian Laporan Hasil Penelitian
Penelitian adalah suatu
proses, yaitu suatu rangkaian langkah yang dilakukan secara terencana dan
sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Laporan hasil
penelitian ialah suatu karangan yang menguraikan
secara lengkap tentang proses dan hasil yang diperoleh dari penelitian.
B. Tujuan Laporan Hasil Penelitian
Secara umum tujuan
penelitian ada tiga macam yaitu yang bersifat:
1.
Penemuan,
berarti data yang diperoleh dari penelitian itu adalah data yang betul-betul baru yang sebelumnya belum pernah
diketahui
2.
Pembuktian,
berarti data yang diperoleh itu digunakan untuk membuktikan adanya
keragu-raguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu
3.
Pengembangan,
berarti memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
Beberapa tujuan lain
yang telah dikemukakan, bahwa secara garis besar tujuan penelitian dapat
dibedakan menjadi tiga menurut pihak yang memanfaatkan hasilnya. Ketiga pihak
dimaksud adalah:
1.
Para
Ilmuan, karena dengan penemuan melalui penelitian maka khasanah ilmu
pengetahuan akan bertambah luas. Penambahan ilmu berarti bertambah pula tempat
berpijak bagi mereka dalam mengembangkan pengetahuan lebih lanjut.
2.
Pemerintah,
atau pengambilan kebijaksanaan yang lain. Informasi yang diperoleh dari
penelitian akan bermanfaat bagi penentuan kebijaksanaan sehingga daya dukung
kebijaksaan tersebut cukup kuat karena berupa data actual berupa laporan hasil
penelitian.
3.
Masyarakat
luas baik secara perseorangan maupun kelompok. Adanya informasi dari penelitian
inilah maka kehidupan manusia menjadi lebih sempurna dan dipermudah. Ingat
penemuan listrik, telepon, plastic, dan sebagainya yang jelas-jelas mempermudah
kehidupan manusia.
C. Ruang Lingkup Laporan Hasil Penelitian
1.
Bagian
Pembuka (Prefatory Pages)
a. Halaman Judul (Title Page)
b. Halaman pengesahan (Authorization)
c. Halaman keterangan dari si Peneliti (Certification
of Statement)
d. Kata Pengantar (Acknowledgement)
e. Daftar Isi (Table of Content)
f. Daftar Tabel (List of Tables), Daftar
Gambar (List of Figures)
2.
Bagian
Isi (Body of Report)
a.
Pendahuluan
(Introduction)
b.
Tinjauan
Pustaka atau Kerangka Teoritik-Hipotesis (Literature Review/Theoritical
Framework-Hypotheses)
c.
Metodologi
(Methodology) yang mencakup : Metode Penelitian (Research Method),
Sampel dan Pengumpulan Data (Sample & Data Collection). Pengembangan
Instrument Penelitian (Development of Research Instrument), Uji
Reliabilitas dan Validitas (Relebility & Validity Test).
Operasionalisasi Variabel atau Devinisi Operasional (Operationalization of
Variabel)
d.
Metode
Analisis Data (Data Analysis)
e.
Hasil
dan Pembahasan (Results/Findings & Discussions)
f.
Kesimpulan
(Conclusions)
g.
Implikasi
Manajerial (Managerial Implication) dan Implikasi Teoritik (Theoritical
Implications)
h.
Keterbatasan
Penelitian (Limitations)
3.
Bagian
Lampiran (Appendices Section)
a.
Kuesioner
(Questionnaire)
b.
Hasil
Perhitungan Statistik (Jika perlu saja atau Hanya bagian-bagian tertentu yang
dianggap penting)
c.
Daftar
Pustaka (Bibliography)
d.
Daftar
Reverensi (References)
D. Langkah Penyusunan dalam Laporan Hasil
Penelitian
Langkah-langkah dalam menyusun laporan penelitian
adalah sebagai berikut:
1.
Membuat
draft laporan
2.
Merevisi
Draft Laporan
3.
Mentik
Laporan atau Karya Ilmiah
E. Contoh Laporan Hasil Laporan
Contoh
laporan hasil penelitian dari salah satu skripsi mahasiswa Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan yang berjudul Peranan Pondok Pesantren Roudhotul
Muta’allimin Sidorejo Comal dalam Pembinaan Akhlak Santri.
Laporan
ini menganalisis tentang wujud pembinanaan, faktor pembinaan pondok pesantren
terhadap santri dan keadaan para santri.
V.
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia
biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
DAFTAR
PUSTAKA
Suryabrata,
Sumadi. 2011. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Arikunto,
Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Sugiyono. 2008. Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung:
Alfabeta
Azwar,
Azrul. 2003. Metodologi Penelitian. Batam: Binarupa Akara
Anggota
IKAPI. 2005. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Hermawan, Asep. 2004. Kiat
Menulis Skripsi, Tesis, dan Disertai untuk Konsentrasi Pemasaran. Jakarta:
Ghalia Indonesia
Ali,
Mohamad. 1987. Penelitian Pendidikan. Bandung: Percetakan Offset Angkasa
Werdiningsih,
Nanik. 2011. Peranan Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal
Dalam Pembinaan Pembinaan Akhlaq Santri. Pekalongan: IAIN Walisongo
Semarang.
BIODATA SINGKAT MAHASISWA
1. Nama :
Wirda Nurfitriana
NIM : 123311040
Jurusan/Prodi : KI/MPI
TTL : Kendal, 26 Mei 1994
Pendidikan : SD N 1 Donosari
SMP N 2 Patebon
SMK N 1 Kendal
IAIN
Walisongo Semarang
Alamat : Ds. Donosari Rt.2 Rw.II Gang
Manggis No.21 Patebon Kendal 51351
No.Hp : 085726388860
2. Nama :
Lutfiana Irmayani
NIM : 123311042
Jurusan/Prodi : KI/MPI
TTL : Bojonegoro, 01 Oktober 1994
Pendidikan : SD N 2 Ngrandu
MTS N 1 Bojonegoro
MAN 1 Bojonegoro
IAIN Walisongo Semarang
No.Hp : 085706791304
Email : lutfiana.irmayani@yahoo.com
3. Nama :
M. Okta Riyanto
NIM : 123311043
Jurusan/Prodi : KI/MPI
TTL : Bojonegoro, 20 Oktober 1993
Pendidikan : SD N 2 Sekar
SMP N 1 Sekar
MAN 1 Bojonegoro
IAIN Walisongo Semarang
Alamat : Sekar, Bojonegoro, Jawa Timur
No.Hp : 085335244340
Email : okta.riyanto93@gmail.com
[1] Sumadi Suryabrata, Metodologi
Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 11
[2] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D),
(Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 3
[3] Suharsimi Arikunto, Manajemen
Penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2010), hlm. 471
[4] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung:
Alfabeta, 2008), hlm. 3
[5] Azrul Azwar, Metodologi
Penelitian, (Batam: Binarupa Akara, 2003), hlm. 161
[6] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D),
(Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 5-6
[7] Suharsimi Arikunto, Manajemen
Penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2010), hlm. 471
[8] Anggota IKAPI, Penelitian
Terapan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005) hlm. 251
[9] Anggota IKAPI, Penelitian
Terapan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005) hlm. 251
[10] Anggota IKAPI, Penelitian
Terapan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005) hlm. 251-252
[11] Anggota IKAPI, Penelitian
Terapan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005) hlm. 252
[12] Asep Hermawan, Kiat
Menulis Skripsi, Tesis, dan Disertai untuk Konsentrasi Pemasaran, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 2004), hlm. 73
[13] Mohamad Ali, Penelitian
Pendidikan, (Bandung: Percetakan Offset Angkasa, 1987) hlm. 167
[14] Mohaman Ali, Penelitian
Pendidikan, (Bandung: Percetakan Offset Angkasa, 1987) hlm. 167-168
[15] Nanik Werdiningsih, Peranan
Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal Dalam Pembinaan
Pembinaan Akhlaq Santri, (Pekalongan: IAIN Walisongo Semarang, 2011) hlm.
33-34
[16] Nanik Werdiningsih, Peranan
Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal Dalam Pembinaan
Pembinaan Akhlaq Santri, (Pekalongan: IAIN Walisongo Semarang, 2011) hlm.
34-37
[17] Nanik Werdiningsih, Peranan
Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal Dalam Pembinaan
Pembinaan Akhlaq Santri, (Pekalongan: IAIN Walisongo Semarang, 2011) hlm.
37-39
[18] Nanik Werdiningsih, Peranan
Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal Dalam Pembinaan
Pembinaan Akhlaq Santri, (Pekalongan: IAIN Walisongo Semarang, 2011) hlm.
39-42
[19] Nanik Werdiningsih, Peranan
Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal Dalam Pembinaan
Pembinaan Akhlaq Santri, (Pekalongan: IAIN Walisongo Semarang, 2011) hlm.
42-43
[20] Nanik Werdiningsih, Peranan
Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal Dalam Pembinaan
Pembinaan Akhlaq Santri, (Pekalongan: IAIN Walisongo Semarang, 2011) hlm.
43-45
[21] Nanik Werdiningsih, Peranan
Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sidorejo Comal Dalam Pembinaan
Pembinaan Akhlaq Santri, (Pekalongan: IAIN Walisongo Semarang, 2011) hlm.
45-47