ISLAM DI JAWA DAN PENGARUHNYA
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Islam dan
Budaya Jawa
Dosen Pengampu: M. Rikza
Chamami, MSI

Disusun Oleh:
Adkha
Rikha S. (123311002)
Ayu Dewi A. (123311007)
Wirda Nurfitriana (123311040)
Nofi Arissa (123311047)
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG 2013
I.
PENDAHULUAN
Sejak abad XIII M sudah terjadi kontak dan dialog yang erat antara dua pola
pikiran dan pandangan hidup yang berbeda. Dialog Islam dan dinamika hidup
masyarakat Indonesia, khususnya Jawa terus bergerak maju mencari bentuknya
sendiri. Norma religius dan realitas sosialnya yang khas Islami berbaur dengan
budaya, adat dan tradisi Jawa.
Islam masuk ke Jawa menghadapi masyarakat jawa yang penuh dengan
budaya mistis, bangunan kepercayaan Animisme-Dinamisme dan agama Hindhu-Budha
mengakar. Dakwah islam untuk beberapa abad tidak mampu menembus dinding istana
yang masih dipagari dengan kepercayaan Hindhu-Budha kejawen.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Bagaimana pengaruh Islam di Jawa pada masa kerajaan
Hindhu-Budha?
B.
Bagaimana pengaruh Islam di Jawa pada masa kerajaan
Islam di Jawa?
C.
Bagaiman pengaruh Islam di Jawa pada masa masa
Indonesia Modern ?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengaruh Islam di Jawa pada masa kerajaan
Hindhu-Budha di Jawa
Masuknya Hindhu- Budha bersama dengan
munculnya sistem kerajaan, yang diperkenalkan oleh kaum Brahmana India, serta
untuk memperkenalkan peradaban intelektual serta kesejahteraan Hindu dikalangan
istana. Para Brahmana bertindak sebagai penasehat kerajaan, memberi petunjuk
mengenai sistem organisasi dan upacara kerajaan sebagai sendi dasar sebuah
kerajaan.[1]
Kebudayaan Jawa menerima pengaruh Hindhu-Budha
tidaklah membuat jati diri Jawa hilang atau musnah, tetapi yang terjadi adalah
kebangkitan budaya jawa dengan memanfaatkan unsur-unsur Hindhu-Budha. Agama
Hindhu-Budha berhasil diserah dan dicerna bahkan diJawakan. Lahirkan keagamaan
atau kepercayaan Hindhu kejawen dan Budha kejawen yang merupakan bentuk-bentuk
kepercayaan yang dipraktekan oleh pihak kerajaan dan diteruskan kepada
masyarakat. Kerajaan Hindhu kejawen dan Budha kejawen yang membuat semakin
kuatnya tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang serba animis-dinamis.[2]
B. Pengaruh Islam di Jawa pada masa kerajaan Islam di Jawa
Penyebaran agama islam yang dibawa oleh kaum
sufi memang tidak mudah karena masih dipengaruhi Kerajaan Hindhu-Budha, namun
perjuangan atau dakwah islamiyah tidaklah berhenti begitu saja, para juru
dakwah tidaklah putus asa dan mengambil strategi baru dalam berdakwah. Sasaran
dakwah dialihkan ke daerah pesisir yang jauh dari pantauan kerajaan. Bermula
dari inilah Islam mulai melangkah setahap demi setahap, berangkat dari golongan
bawah di daerah pesisir yang menerima dengan baik ajaran-ajaran Islam. Di daerah
pesisir ini Islam tumbuh subur dan menjadi kekuatan besar dengan berdirinya
pesantren-pesantren yang akhirnya mampu menandingi wibawa kerajaan.[3]
Dengan demikian besarnya pengaruh Islam
disekitar pesisir yang kemudian merambah ke daerah pedalaman, dan kemudian
Islam mulai menembus ke benteng-benteng istana. Unsur-unsur mulai meresap dan
mewarnaisastra budaya dan tradisi-tradisi istana. Sebagai puncak keberhasilan
dawah Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam Demak yang berada di
pesisir utara pulau Jawa.[4]
Kehadiran islam ditanah Jawa membuahkan dua
kelompok atas keagamaannya yaitu :
1) Golongan santri yaitu kesadaran dan cara hidupnya lebih ditentukan oleh
tradisi-tradisi Jawa pra-Islam dan berusaha untuk hidup menurut ajaran Islam.
2) Golongan abangan atau kaum priyayi atau Jawa kejawen mereka mengakui Islam
sebagai agamanya. Kaum ini banyak yang berasal dari pengikut-pengikut paguyupan
yaitu kelompok yang mengusahakan kesempurnaan hidup manusia melalui
praktek-praktek asketik(paguyupan-paguyupan kejawen), meditasi, dan mistik. [5]
Perbedaan kedua golongan diatas pada cara-cara melakukan ibadah, kepatuhan
terhadap syariat Islam. Kaum santri berusaha mengatur hidup mereka menurut
aturan-aturan agama Islam, sedangkan kaum abangan lebih cenderung mengatur hidupnya
berdasarkan tradisi-tradisi kerajaanyang merupaka warisan pra Islam yang sudah
berbaur dengan ajaran-ajaran Islam.[6]
C. Pengaruh Islam di Jawa pada masa Indonesia Modern
1. Al – Jami’ah Al-Khairiyah
Orang Arab yang tinggal di Jakarta menempati perkampungan
tertentu yang dikenal dengan sebutan Kampung Arab. Emigran Arab ini dan
keluarganya hanya boleh tinggal di kampung Arab ini. Mereka ada yang melakukan
perdagangan dan ada yang melakukan dakwah Islamiyah. Usaha ini tidaklah
disenangi oleh pemerintah Belanda.
Didalam kehidupan orang di pemukiman orang Arab, banyak
timbul masalah seperti peristiwa kematian, anak yatim, janda, keluarga miskin,
dan masalah pendidikan anak mereka.[7]
Latar belakang di atas telah menyadarkan beberapa orang
keturunan Arab untuk membentuk suatu badan yang mampu menampung semua
permasalahan. Kemudian pada tanggal 17 Juli 1905 di Jakarta, didirikan
organisasi Al-Jami’ah al-Khairiyah, atau yang lebih dikenal dengan nama Jami’at
Khair.
Pendiri dan Ide Pembaharuannya
Para pendiri perkumpulan Jami’at Khair ini antara lain:
a. Sayyid Ali bin Ahmad bin Syahab, sebagai ketua
b. Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Syahab, sebagai wakil ketua.
c. Sayyid Muhammad al-Fachir bin Abdurrahman al- Masyhur, sebagai sekertaris.
d. Sayyid Idrus bin Ahmad bin Syahab, sebagai bendahara.
e. Said bin Ahmad Basandied, sebagai anggota.
Orang Indonesia yang pernah menjadi anggota
perkumpulan Jami’at Khair ini antara lain:
a. Raden Oemar Said Tjokroaminoto
b. R. Jayanegara, Hoofd Jaksa Betawi
c. R.M. Wiriadimaja, Asisten Wedana Rangkasbitung
d. R. Hasan Djajadiningrat
e. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.[8]
2.
Muhammadiyah
Muhammadiyah
adalah sebuah organisasi Islam yang
besar di Indonesia. Tujuan
utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan
ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah
tertentu dengan alasan adaptasi.[9]
Gerakan
Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat
yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang
bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem
kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Akan tetapi, ia juga menampilkan
kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang ekstrem. Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di
Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H).[10]
Daftar Ketua
Umum :
|
No
|
Nama
|
Awal Jabatan
|
Akhir Jabatan
|
|
|
1
|
||||
|
2
|
||||
|
3
|
||||
|
4
|
||||
|
5
|
||||
|
6
|
||||
|
7
|
||||
|
8
|
||||
|
9
|
||||
|
10
|
||||
|
11
|
||||
|
12
|
||||
|
13
|
||||
|
14
|
||||
3.
Nahdlatul Ulama
Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang
dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi,
telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa
ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". merespon kebangkitan nasional tersebut dengan
membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan
(Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri"
(kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan
keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut
Tujjar, (pergerakan kaum
saudagar).Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi
yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari
1926). Organisasi
ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H.
Hasyim Asy'ari merumuskan kitab
Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian
juga merumuskan kitab
I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua
kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan
warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan
politik.
Tujuan : Menegakkan ajaran Islam menurut paham
Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.[12]
IV.
KESIMPULAN
Masuknya Hindu- Budha bersama dengan munculnya sistem kerajaan, yang
diperkenalkan oleh kaum Brahmana India
yang melahirkan kepercayaan dan keagamaan Hindu Kejawen dan Budha Kejawen.
Kemuadian penyebaran agama islam dibawa oleh kaum sufi masuk ke Jawa pertama kali pada Kerajaan Islam Demak yang
melahirkan dua kelompok keagamaan, yaitu: Golongan Santri dan Golongan Abangan
(Kaum Priyayi).
Pada masa Indonesia Modern terbentuk
gerakan-gerakan pembaruan berupa Al-Jami’ah al-Khairiyah, Muhammadiyah, dan
Nahdatul Ulama.
V.
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita
menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Khalim, Samidi, Islam dan Spiritualitas
Jawa, Semarang: RaSAIL media group, 2008
Khoiriyah, Islam dan logika modern, Jogjakarta
: Ar – Ruzz Media, 2008
file:///C:/Users/user/Documents/Nahdlatul_Ulama.htm diakses 3 April 2013
BIODATA SINGKAT MAHASISWA
Nama : Adkha Rikha S.
NIM : 123311002
Jurusan/Prodi : KI/MPI
TTL : Demak, 6
Juni 1993
Pendidikan : SD N 1
Karangawen
SMP N 1
Karangawen
SMA N 2 Mranggen
IAIN Walisongo Semarang
Alamat : Ds. Karangawen Rt.2 Rw.II Demak
No.Hp :
085740505208
2.
Nama : Ayu Dewi A.
NIM : 123311007
Jurusan/Prodi : KI/MPI
TTL : Jepara,
2 April 1995
Pendidikan : SD N 2 Sowan
Lor
MTS NU BANAT Kudus
MA NU BANAT Kudus
IAIN
Walisongo Semarang
Alamat : Sowan Lor, Kedung Jepara
No.Hp :
083862769769
3.
Nama : Wirda Nurfitriana
NIM : 123311040
Jurusan/Prodi : KI/MPI
TTL : Kendal, 26 Mei 1994
Pendidikan : SD N 1
Donosari
SMP N 2 Patebon
SMK N 1 Kendal
IAIN Walisongo Semarang
Alamat : Ds. Donosari Rt.2 Rw.II Gang Manggis
No.21 Patebon Kendal 51351
No.Hp :
085726388860
4.
Nama : Nofi Arissa
NIM : 123311047
Jurusan/Prodi : KI/MPI
TTL : Tegal,
28 Desember 1993
Pendidikan : SD N IV
Sidakaton
MTS N Model Babakan
MAN 1 Brebes
IAIN Walisongo Semarang
Alamat : Sidapurna Rt.14/II Dukuhturi Tegal
No.Hp :
081902136660
Email :
eko_riyan@yahoo.com
[3]Ibid, hlm. 48
[8] Ibid, hlm 107
[9] file:///C:/Users/user/Documents/Muhammadiyah.htm
[10] Khoiriyah, opcit, hlm. 118