“WAYANG”
LAPORAN KUNJUNGAN KE
MUSEUM RONGGOWARSITO
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen
Pengampu: M. Rikza Chamami, MSI
![]() |
Disusun Oleh:
Adkha
Rikha S. (123311002)
Ayu
Dewi A. (123311007)
Wirda Nurfitriana (123311040)
Nofi
Arissa (123311047)
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
I. PENDAHULUAN
Museum
Ranggawarsita merupakan sebuah aset pelayanan public di bidang pelestarian
budaya, wahana pendidikan dan rekreasi. Museum yang berlokasi di Kota Semarang,
Jawa Tengah ini dirintis oleh Proyek Rehabilitasi dan Permuseuman Jawa Tengah
pada tahun 1975 dan resmi buka oleh Prof. Dr. Fuad Hasan pada tanggal 5 Juli
1975.
Nama
Ranggawarsita dipakai sebagai nama museum karena merupakan pujangga yang
fenomenal di Keraton Surakarta dan karya sastranya mengandung nasehat-nasehat
dan petunjuk-petunjuk bagi bangsa Indonesia yang sifatnya “membangun dan
mendidik menuju pada kemuliaan, kesejahteraan, kejayaan, dan kebahagiaan bangsa
Indonesia seluruhnya.
Koleksi-koleksi
dari Museum Ranggawarsita berjumlah 59.802 buah yang terbagi dalam 10 jenis,
yaitu: geologi, biologika, arkeologi, historika, filologi,
numismatic/heraldika, kramologika, teknologika, ethnografika, dan seni rupa.[1]
Dalam
laporan ini kami akan menulis salah satu koleksi yang berupa jenis seni rupa
yang berupa wayang. Karena sebagai masyarakat Jawa kita wajib mempelajari dan
mengetahui pengertian, sejarah, jenis, dan fungsi wayang.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apakah
pengertian Wayang?
B. Bagaimana
sejarah asal usul Wayang?
C. Apa
saja jenis-jenis Wayang?
D. Bagaimana
Karakteristik Wayang?
E. Bagaimana
fungsi dan nilai yang tekandung dalam wayang?
III. HASIL PENGAMATAN
A. Pengertian wayang
Wayang berasal dari kata “wayangan” yaitu
sumber ilham dalam menggambarkan wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar
jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang, di awalnya,
wayang adalah bagian dari kegiatan religi animism menyambang “Hyang”,
itulah intinya dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman
dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun “Merti Desa”
agar panen berhasil ataupun desa terhindar dari segala mala.[2]
Wayang merupakan salah satu bentuk teater
tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung (898 – 910),
telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang dan ditujukan untuk menyembah para
Sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti tahun 907 M tersebut “Sigaligi
Mawayang Buat Hyang, Macarita Bhima Ya Kumara” (menggelar
wayang untuk para Hyang menceritakan tentang Bima sang Kumara). [3]
Boneka wayang pada zaman Majapahit diartikan sebagai
bayangan roh nenek moyang yang diwujudkan
berupa kria tatah sungging dengan bentuk tokoh-tokohnya yang
menyerupai bentuk manusia. Setelah zaman kerajaan Demak boneka wayang tidak
lagi dimaksudkan sebagai bayangan roh nenek moyang sebab menurut ajaran Islam
hal itu adalah larangan. Boneka wayang pada zaman kerajaan Demak dimaksudkan sebagai lambang
watak manusia.[4]
Seperti pernyataan Groenendael, “ wayang” dapat berararti boneka atau tokoh dalam suatu
drama dan yang utama diasosiasikan dengat teater boneka wayang . Ini tergantung
pada bahan yang dipakai untuk membuat boneka itu . Orang dapat membedakan
bahannya, kalau itu dibuat dari kulit, namanya wayang kulit; kalau boneka itu
dari kayu disebut wayang golek . Wayang kulit pipih, kebanyakan diukir dan di
cat secara artistik. Wayang kulit ini digerakkan dengan lampu sedemikian rupa
sehingga bayangannya jatuh pada kelir yang bentuk garis-garisnya tampak nyata menembus kelir.
Biasanya wayang kulit dipertunjukkan di waktu malam. Oleh karena itu
diperlukan lampu yang disebut blencong. Kalau wayang diadakan di waktu
siang, lampu tidak selalu dipakai. Wayang kulit terdapat di seluruh Jawa dan
Bali, teristimewa di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Ada juga wayang di
Madura, Kalimantan, Sumatradan daerah lain yang pernah jadi pemukiman orang
Jawa dan Bali (Groenendael, 1987: 56) .[5]
B. Sejarah Asal Usul Wayang
Buku–buku Jawa kuno memuat permulaan adanya wayang.
Dalam buku itu dinyatakan bahwa wayang adalah gambaran fantasi tentang bayangan
manusia (Jawa : ayang-ayang). Perkembangan berikutnya wayang diartikan sebagai
bayang-bayang boneka yang dimainkan di atas layar putih. Pengertian itu telah
menunjuk boneka dua dimensi yaitu wayang kulit.
Tinjauan dari sisi lain didasarkan pada anggapan
bahwa orang jawa pada zaman dahulu, yaitu pada zaman Neolitikum kira-kira pada
tahun 500 sebelum Masehi mulai menaruh kepercayaan kepada roh nenek moyang bagi
orang yang telah meninggal. Roh dianggap dapat memberi pertolongan dan
perlindungan kepada setiap kehidupan . Maka dari itu anak cucu yang masih hidup
dalam usaha memajukan kehidupan keluarga di lingkungannya , mereka menyembah
kepada roh nenek moyang.
Atas dasar keyakinan tersebut maka roh nenek moyang
dapat diundang untuk datang di tengah-tengah keluarga anak cucu. Kehadirannya
dapat diharapkan akan memberi pengaruh dan berkah kepada anak cucu yang masih
hidup. Pikiran dan anggapan seperti itulah yang mendorong orang Jawa membuat
bayangan roh sehinngga seolah-olah orang dapat berjumpa dengan roh nenek moyang
yang telah meninggal .
Dengan segala macam cara orang berusaha menahan roh
nenek moyang untuk sementara dalam bayangan yang telah mereka buat tadi.
Cara-cara yang ditempuh untuk menahan roh nenek moyang tersebut dengan memilih
(1) tempat khusus, yaitu da dalam rumah tempat tinggal keluarga yang dianggap
gaib, misalnya pandapa, pringgitan, mungkin juga lingkungan alam terbuka yang
dianggap gaib misalnya di sendang (kolam
yang bermata air) yang berada di bawah pohon rindang. (2) Waktu khusus, yaitu
waktu yang dianggap yang seirama dengan gerak jiwa serta alamnya, misalnya pada
waktu tengah malam pada saat roh nenek moyang sedang mengembara. (3) Orang
sakti, yaitu orang yang mampu berhubungan dengan hal-hal yang gaib antara lain
pendeta, tokoh masyarakat, syaman, dukun atau dalang .
Atas dasar kepercayaan orang kepada roh nenek moyang
maka wayang diartikan sebagai bayangan roh nenek moyang . Untuk
memvisualisasikan atau menyatakan bayangan roh dibuatlah boneka yang
diproyeksikan pada sehelai layar putih. Boneka berfungsi sebagai tempat
sementara roh yang datang, sedangkan bayangan boneka sebagai bayangan roh yang
tinggal sementara di dalam boneka.[6]
C. Jenis-Jenis Wayang
Museum Ronggowarsito mempunyai beberapa koleksi
wayang, diantaranya sebagai berikut:
1. Wayang
Purwa
Wayang
Purwa disebut juga wayang kulit karena terbuat dari kulit lembu. Wayang kulit
adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa.
Dalang
memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain
putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong),
sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat
bayangan wayang yang jatuh ke kelir.
Secara
umum, wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi
tidak dibatasi hanya dengan pakem (standar) tersebut.
Menurut
Sunarto, di dalam wayang purwa (juga pada jenis wayang lain), ukuran
besar/tingginya dapat dibedakan menjadi empat macam, yakni:[7]
a. Wayang
Kaper
Wayang
yang diukuran dalam ukuran kecil, dipergunakan untuk latihan memainkan wayang
dan pentas bagi anak-anak.[8]
Dalam
hal ini, R.M. Sajid menjelaskan, “diberi nama wayang kaper karena saat
di-sabet-kan (dimainkan dalam pentas) pada kelir (tabir), tidak
dijelaskan jenis tokoh yang sedang dimainkan tersebut, karena saking kecilnya
bentuk wayang. Yang tampak hanya benda-benda kecil seperti kaper-keper
(kupu-kupu kecil) yang berkeliaran di sekitar lampu”.[9]
b. Wayang
Kidang Kencana
Wayang
ini dibuat dalam ukuran medium, tanggung. Didekorasi dengan emas maka disebut
kidang kencana.
Tokoh-tokohnya
menunjukkan Candra Sengkala. Contoh: Shiwa menunggang lembu Andini.[10]
Jenis
wayang ini juga sering disebut wayang kencana yang berarti sedang. Maksud
pembuatan wayang jenis ini agar saat digunakan dalam pentas tidak terlalu
berat.[11]
2. Wayang
Klithik Gedhog
Wayang
ini menceritakan kisah Damarwulan di jaman Majapahit. Tokoh-tokohnya bersenjata
keris dan golok diciptakan pada masa Amangkurat I.
3. Wayang
Beber
Wayang Beber
diceritakan pada zaman Majapahit. Nama Beber diberikan karena teknik
pementasannya dengan cara membentangkan kain bergambar wayang, yang semula
digulung.
Isi ceritera
yang dibawakan adalah lakon Panji dan lakon Purwa. Satu lakon berisis adegan,
sedangkan satu gulung terdiri dari empat adegan, maka satu ceritera terdiri
empat gulung.
4. Wayang
Gedhog
Wayang
yang menceritakan kisah jenggala sampai jaman penjajaran berupa mitos dan
sejarah yang diambil dari serat panji. Tokoh-tokohnya berciri khas memakai
kuluk, wanita berambut panjang, pria bersarung, kalung, gelang, anting-anting
dan kelat batu.
5. Wayang
Kayu
Kesenian
wayang ternyata berkembang tidak saja dalam bentuk kisah, tokoh, perlengkapan,
tetapi juga bahan bakunya.
Sunan
Kudus yang hidup dalam lingkungan perajin kayu, menciptakan boneka-boneka
wayang dari kayu dalam bentuk tiga dimensi dan dikenal sebagai wayang golek
purwa. Kata ‘golek’ sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berate boneka.
Juga
berkonotasi ‘mencari’ sesuatu dan tariannya yang selalu berputar-putar,
seolah-olah sedang mencari-cari.
Perkembangan
berikutnya dibuat tokoh-tokoh wayang dari kayu pipih yang dikenal sebagai
wayang klithik atau wayang krucil dan dibuat pada masa Sri Susuhan Paku Buwono
II.
Proses
pembuatan wayang golek menggunakan bahan baku kayu kudho, dengan tahap-tahap
pembuatan : bakalan, wangun, bentuk jadi (sunggingan).[12]
6. Wayang
Dupara
Wayang
yang menceritakan kisah perkembangan Kerajaan Demak sampai dengan Mataram
(Perang Diponegoro).
Diciptakan
oleh seorang bangsawan Surakarta Danuatmaja pertengahan abad 19.
7. Wayang
Budha
Wayang
yang menceritakan kisah Budha, disebut juga wayang reca karena ide dasar bentuk
tokohnya diambil dari relief-relief candi. Diciptakan oleh Hajarsatoto di Sala.
8. Wayang
Warta
Wayang
ini menceritakan kisah yang bersumber pada kitab Injil. Diciptakan oleh R.
Soemiyanto di Klaten.
9. Wayang
Kandha (Ramayanan)
Wayang
yang menceritakan kisah lahir hingga gugurnya Rahwana. Diambil dari kisah
Ramayana, karangan Empu Walmiki. Pengaruh dalam sastra Indonesia dapat dilihat
pada Hikayat seri Rama. Cerita tersebut terdiri dari tujuh Kanda, yaitu:
Balakandha, Ayodyakandha, Arannyakandha, Kiskendakandha, Sundarakandha,
Yudhakandha, Uttarakandha.[13]
D. Karakteristik Wayang
1. Bentuk
Hidung :
a. Hidung
Walimiring : Kelihatan seperti pisau
belati kecil, untuk menunjukkan watak dan kebangsawanan. Contoh: Arjuna, Samba,
Kresna.
b. Hidung
Pelokan : Seperti separo bagian
buah mangga, menunjukkan pesamaan watak raksasa, kasar dan kuat. Contoh: Buto
Rotor, Bragolba dan tokoh raksasa lain.
c. Hidung
Bentulan : Mengungkapkan
keprajuritan. Contoh: Gatotkaca, Gondomono, Brotosewo.
d. Hidung
Bruton : Menunjukkan sifat
lucu. Contoh: Bagong.
e. Hidung
Sumpel : Menunjukkan sifat lucu.
Contoh: Semar dan Limbuk.
f. Hidung
Terong : Menunjukkan sifat
dapat menarik perhatian seperti pelawak. Contoh: Gareng.
g. Hidung
Cempaluk : Menunjukkan sifat
kekonyolan seperti badut. Contoh: Petruk.
h. Hidung
Pesekan : Menunjukkan sifat
kelucuan. Contoh: Togog, Mbilung dan
Wanoro.
2. Bentuk
Bibir atau Garis Mulut
a. Mulut
Domis : Bentuk
mulut ksatria, memperlihatkan keelokan dan watak sensitif.
b. Mulut
Gusen Tanggung : Menggambarkan
watak sok serba tahu. Contoh: Patih Sangkuni.
c. Mulut
Ngablak :
Menggambarkan watak raksasa.
3. Bentuk
Pelupuk Mata
a. Mata
Gabahan : Berbentuk butir
beras, mata para Ksatria.
b. Mata
Kedhelen : Berbebtuk biji
kacang, mata tokoh Baladewa.
c. Mata
Kedhondhongan : Berbentuk biji
kedhondhong, mata Patih Sengkuni.
d. Mata
Pelengan :
Menggambarkan watak bawaan yang kejam.
e. Mata
Penanggal : Menggambarkan watak
yang tidak dapat dipercaya, seperti Buto Cakil.[14]
E. Fungsi dan Nilai Wayang
Wayang bukan hanya sekedar tontonan tetapi juga
tuntunan. Wayang bukan sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai
media komunikasi, media penyuluhan dan media pendidikan. Bahkan wayang juga
sebagai wahana pengabdian dalang bagi masyarakat, nedara dan bangsa sertaumat
manusia pada umumnya.
Ditinjau
dari segi upaya pengembangan budaya, kedua fungsi wayang tersebut, yakni fungsi
tontonan dan fungsi tuntunan, semuanya perlu mendapat perhatian dalam pembinaan
wayang.
Kwalitas pertujukan wayang, baik dalam fungsinya
selaku tontonan maupun sebagai tuntunan, memang tidaklah berarti bahwa peranan
para niyaga, wiraswara dan pesinden atau swarawati itu hanyalah sebagai timun
wungkuk jaga imbuh atau sebagai embel-embel yang tidak berarti. Iringan
karawitan yang baik dilengkapi dengan wiraswara dan swarawati yang dan dapat
mengikuti selera penonton. Namun, dalang yang pada kakekatnya merupakan dirigen
dan sekaligus sutradara terhadap pertunjukan wayang seutuh-utuhnya itu,
tetaplah sebagai pengendali dan penentu keberhasilan pertunjukan wayang.
Dilihat dari aspek wayang sebagai tuntunan, peranan
dalang hamper-hampir sangat mutlak. Untuk bisa memberikan tuntunan kepada
masyarakat, khususnya para penonton, seorang dalang harua menguasai hamper
segala hal. Di mata masyarakat Jawa, dalang adalah wong kang wasis ngudhal
piwulang (orang yang mahir memberikan pelajaran) atau wong kang pantes
ngudhal piwulang (orang yang pantas memberikan berbagai pelajaran).[15]
Selain itu, Dalam pergelaran wayang tersaji dalam bentuk cerita yang disebut lakon.
Semula suatu lakon menggambarkan kehidupan para leluhur. Lama kelamaan pada
zaman hindhu lakon para leluhur bergeser dengan lakon kepahlawanan dari India
yang dipetikndari mahabarata atau ramayana namun dalam perkembangannya dasar
lakon yang asli sukar ditemukan kembali.
Kemudian lakon dari kitab mahabarata atau ramayana diadopsi oleh orang
jawa akhirnya berisi muatan kepribadian dan nilai – nilai kehidupan jawa. Seni pertunjukan wayang sarat akan nilai –
nilai yang bermanfaat sebagai tuntuna dan tontonan dalam kehidupan masyarakat
Indonesia.
Pergelaran wayang
semalam suntuk atau2-3 jam memiliki nilai nilai kehidupan jawa seperti :
a.
Nilai religius : pada zaman terdahulu digunakan untuk
memuja roh nenek moyang. Pada zaman kerajaan Demak pertunjukan wayang digunakan
untuk menyebarkan agama islam.
b.
Nilai filosofis : dalam pergelaran wayang terdiri dari
beberapa bagian adegan yang saling berhubungan, tiap tiap bagian melambangkan
fase atau tingkatan kehidupan manusia.
c.
Nilai kepahlawanan : lakon dalam pewayangan yang
bersumber dari Ramayana dan Mahabarata jelas mengandung unsur kepahlawanan
d.
Nilai kependidikan : kandungan pendidikan sangat luas,
termasuk di dalamnya pendidikan etika atau moral dan budi pekerti , pendidikan
politik atau kewarganegaraan, pendidikan sosial
dan lain lain.
e.
Nilai estetis : banyak mengandung nilai estetis atau
nilai keindahan sebab pertunjukan wayang adalah seni
f.
Nilai hiburan :
dalam acara gara-garalah terkandung nilai hiburan disamping itu seni adalah
hiburan atau rekreasi.[16]
IV. ANALISIS BUDAYA
Wayang
identik dengan budaya Jawa, ini berarti kita sebagai masyarakat Jawa
berkewajiban untuk melestarikan dan menjaga kwalitas wayang. Dapat kita lihat
berbagai koleksi wayang di Museum Ronggowarsito bahwa wayang-wayang tersebut memiliki
karakteristik yang berbeda-beda dan mengandung berbagai nilai bagi kehidupan
masyarakat Jawa. Tentunya saat pementasan berbagai karakterisitik wayang
tersebut selain sekedar tontonan, namun juga mengandung tuntunan bahkan wayaht
juga sebagai wahana pengabdian dalang bagi masyarakat.
V. KESIMPULAN
Gagasan
tentang wayang telah ada sebelum kebudayaan Hindu masuk ke Jawa. Maka dari itu
dapat dikatakan bahwa wayang merupakan ciptaan asli orang jawa. Dasar
penciptaanya adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang datang dari roh
nenek moyang. Kepercayaan seperti itu disebut kepercayaan Animisme.
Di
Museum Ronggowarsito yaitu terdapat berbagai jenis wayang seperti: wayang
purwa, wayang golek, wayang beber, wayang budha dan lain sebagainya. Semuanya
mempunyai ciri, bentuk, dan cerita yang berbeda-beda.
VI. PENUTUP
Demikianlah
laporan yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam
pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu
kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi
kesempurnaan laporan ini.. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
DAFTAR
PUSTAKA
Aizid,
Rizem. 2012. Atlas Tokoh-Tokoh Wayang, Jogjakarta: DIVA Press.
Bastomi,
Suwaji. 1996. Gemar Wayang , Semarang : IKIP Semarang Press.
Brosur
Keanekaragaman Wayang di Jawa Tengah, Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 2013
Djoko
N. Witjaksono, 2006. WAYANG, Semarang.
Sujamto,
1992. Wayang dan Budaya Jawa, Semarang: Dahara Prize.
Sumukti,
Tuti. 2006. Semar, Yogyakarta : Galangpress.
[1] Brosur
Keanekaragaman Wayang di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah , Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata 2013
[2] Brosur Keanekaragaman
Wayang di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah , Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata 2013
[3] Brosur Keanekaragaman
Wayang di Jawa
Tengah,
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 2013
[4] Suwaji Bastomi, Gemar
Wayang , Semarang : IKIP Semarang Press, 1996, hlm 8
[5] Tuti Sumukti, Semar,
Yogyakarta : Galangpress, 2006, hlm 21-22
[6] Suwaji Bastomi, Gemar
Wayang, Semarang : IKIP Semarang Press, 1996 , hlm 1-2
