Selasa, 05 Mei 2015

MODEL – MODEL EVALUASI KURIKULUM

MODEL – MODEL EVALUASI KURIKULUM
MAKALAH
Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Kurikulum PAI Menengah
Dosen Pengampu:Dr.Fahrurrozi, M.Ag.





Disusun Oleh:

Muhammad Iqbal Reza Majid            123311001
Wirda Nurfitriana                               123311040
Kuntariatun                                         133311073

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015

I.             PENDAHULUAN
Kehadiran pekerjaan evaluasi di bidang pendidikan sebenarnya sudah lama, dapat dikatakan kehadiran evaluasi bersamaan dengan kehadiran kegiatan pendidikan. Ketika suatu proses pendidikan dilaksanakan oleh sekolah dan ketika guru mengambil sebagian dari tugas orangtua dalam mendidik maka pada waktu itu pekerjaan evaluasi sudah hadir.
Dalam dunia pendidikan, istilah kurikulum adalah istilah yang relatif baru dan istilah evaluasi kurikulum berkembang pada masa ketika istilah kurikulum sudah digunakan dan baru dalam dunia pendidikan.Namun, seiring dengan kemajuan zaman, evaluasi kurikulum dalam pendidikan mulai berkembang.Salah satu perkembangannnya terlihat dengan munculnya model-model evaluasi kurikulum yang berasal dari pemikiran para ahli di dunia.
Dari uraian diatas, dalam makalah ini akan membahas mengenai perbedaan model-model evaluasi kurikulum yang mencakup, model-model evaluasi kurikulum, komponen dalam model evaluasi model, dan teknik evaluasi masing-masing model.

II.          RUMUSAN MASALAH
A.    Apa saja model-model evaluasi kurikulum?
B.     Apa saja komponen dalam evaluasi kurikulum?
C.     Bagaimana tehnik evaluasi masing-masing model?

III.       PEMBAHASAN
A.    Model-Model Evaluasi Kurikulum
1.      Model Evaluasi Kuantitatif
a.      Model Black Box Tyler
Model tyler dinamakan Black Box karena tidak ada nama resmi yang diberikan oleh pengembangnya. Model ini dibangun atas dua dasar, yaitu : evaluasi yang ditujukan kepada peserta didik dan evaluasi harus dilakukan  pada tingkah laku awal peserta didik sebelum suatu pelaksanaan kurikulum serta pada saat peserta didik telah melaksanakan kurikulum tersebut. Berdasar pada dua prinsip ini maka Tyler ingin mengatakan bahwa evaluasi kurikulum yang sebenarnya hanya berhubungan dengan dimensi hasil belajar.[1]
b.      Model Teoritik Taylor dan Maguire
Model taylor ini lebih mendasarkan dirinya pada pertimbangan teoritik suatu model evaluasi kurikulum. Dengan pertimbangan teoritik, Taylor dan Maguire mencoba menerapkan apa yang seharusnya secara teoritik terjadi dalam suatu proses pelaksanaan evaluasi kurikulum. Misalnya model ini memperlihatkan variabel dan langkah yang ada dalam proses pengembangan kurikulum sebagai variabel dan langkah yang juga harus ada dalam evaluasi.
Dalam literatur yang mereka pergunakan tidak tercantum dalam tulisan Tylor mengenai evaluasi, tetapi kajian terhadap model ini memperlihatkan adanya pengaruh Tylor.[2]
c.       Model Pendekatan Sistem Alkin
Dalam pendekatannya Alkin membagi medel ini atas tiga komponen, yaitu; masukan, proses yang dinamakannya dengan istilah perantara, dan keluaran (hasil).Dalam model ini Alkin juga mengenal adanya sistem internal yang merupakan interaksi antara komponen yang langsung berhubungan dengan pendidikan, dan juga sistem luar (eksternal) yang mempunyai pengaruh dan dipengaruhi oleh pendidikan.
Dengan menggambarkan dalam bentuk elips, Alkin ingin mengemukakan bahwa terdapat tumpang tindih antara sub-sistem yang ada.Sub-sistem tersebut memiliki karakteristik masing-masing sehingga dapat dikaji terpisah. Model ini dikembangkan berdasarkan empat asumsi, diantaranya:
1)      Variabel perantara adalah merupakan satu-satunya kelompok variabel yang dapat dimanipulasi.
2)      Sistem luar tidak langsung dipengaruhi oleh keluaran sistem (persekolahan).
3)      Para pengambil keputusan tidak memiliki kontrol mengenai pengaruh yang diberikan sistem luar terhadap sekolah.
4)      Faktor masukan memengaruhi aktivitas faktor perantara dan pada gilirannya faktor perantara berpengaruh terhadap faktor keluaran.[3]
d.      Model Countenance Stake
Model Countenance adalah model pertama evaluasi kurikulum yang dikembangkan oleh Stake. Dalam tulisan ini stake mengemukakan keseluruhan kegiatan evaluasi yang harus dilakukan dan cara yang diinginkannya bagaimana evaluasi tersebut dilakukan.
Stake mendasarkan modelnya pada evaluasi formal, dimana dikatakan sebagai suatu kegiatan evaluasi yang sangat tergantung pada pemakaian “cheklists, structured visitation by peers, controlled comparisons, and standardized testing of student”.[4]
e.       Model CIPP ( Context Input Process Product)
Model ini dikembangkan oleh sebuah tim yang diketuai oleh stufflebeum. Model CIPP dalam kenyatannya lebih dikenal masyarakat perguruan tinggi dan evaluator.Model CIPP ini tidak terlalu menekankan pada tujuan suatu program, pada prinsipnya model ini konsisten dengan definisi evaluasi program pendidikan tentang tingkatan untuk menggambarkan pencapaian dan penyediaan informasi guna pengambilan keputusan alternatif.Model CIPP ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi dasar pembuatan keputusan dalam evaluasi sistem dengan analisis yang berorientasi pada perubahan terencana.Batasan tersebut mempunyai tiga asumsi dasar.
1)      Menyatakan pertanyaan yang meminta jawaban dari informasi spesifik yang harus dicapai.
2)      Memerlukan data yang relevan, untuk mendukung identifikasi tercapainya masing-masing komponen.
3)      Menyediakan hasil informasi yang hasil keberadaannya diperlukan oleh para pembuat keputusan peningkatan program pendidikan.[5]
Model evaluasi ini menggambarkan  cakupan evaluasi kurikulum yang cukup luas, tidak hanya mencakup aspek pembelajaran saja sebagai implementasi kurikulum, namun keseluruhan aspek mulai dari: konteks, masukan (input), proses dan produk atau hasil.
1)      Konteks (Contect). Berkaitan dengan situasi atau latar belakang yang memengaruhi terhadap pengembangan kurikulum tertentu yang di dalamnya terdapat jenis-jenis tujuan, dan strategi pencapaian yang akan dikembangkan dalam kurikulum tersebut.
2)      Masukan (input). Berkaitan dengan bahan, peralatan, sarana, fasilitas yang disiapkan, dan mendukung serta menjadi kelengkapan dari kurikulum yang dikembangkan, seperti halnya: 1) dokumen kurikulum serta bahan ajar yang dikembangkan; 2) staf pengajar; guru, dosen, instruktur yang disiapkan; 3) sarana dan prasarana yang tersedia serta media pembelajaran yang digunakan.
3)      Proses (process). Berkaitan dengan pelaksanaan nyata dari kurikulum yang dikembangkan dalam bentuk proses belajar mengajar, baik di kelas (classroom setting) maupun di luar kelas, baik kegiatan intra maupun ekstrakulikuler.
4)      Produk (Produk). Berkaitan dengan keseluruhan hasil yang dicapai oleh pengembang kurikulum tersebut termasuk produk dari hasil pembelajaran. Evaluasi terhadap produk meliputi: 1) evaluasi jangka pendek, yaitu evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran yang menitikberatkan pada pencapaian hasil belajar (summative evaluation), artinya dalam pada aspek ini yang dievaluasi adalah bagaimana peserta didik mampu menyelesaikan sebuah program pendidikan; 2) evaluasi jangka panjang, memfokuskan pada evaluasi dampak (impact), artinya bahwa keberhasilan kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan outcome, apakah program pendidikan mampu atau tidak menghasilkan SDM yang berkualitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia.[6]
2.      Model Ekonomi Mikro
Model ekonomi mikro pada dasarnya adalah model yang menggunakan pendekatan kuantitatif, yang memiliki fokus utama pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil belajar, dan hasil yang diperkirakan). Pertanyaan besar dari model ekonomi mikro adalah apakah hasil belajar yang diperoleh peserta didik sesuai dengan dana yang telah dikeluarkan. Menurut Levin (1983:17) ada  empat model di lingkungan ekonomi mikro yaitu cost-effectiveness, cost benefit, cost-utility, dan cost feasibility.Dari keempat model ini maka model cost-effectiveness yang paling sesuai untuk evaluasi kurikulum.[7]
3.      Model Evaluasi Kualitatif
a.      Model Studi Kasus
Model ini memusatkan perhatiannya kepada kegiatan pengembangan kurikulum di satu satuan pendidikan.Unit tersebut dapat saja berupa satu sekolah, satu kelas bahkan hanya seorang guru atau kepala sekolah.Karakteristik model ini adalah data yang dikumpulkan terutama adalah data kualitatif.Data kualitatif kaya dengan deksripsi dan dianggap lebih memberikan makna dibandingkan data kuantitatif. Data kualitatif dianggap lebih dapat mengungkapkan apa yang terjadi di lapangan. Proses yang direkam tidak dinyatakan dengan angka tetapi dengan ungkapan menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam proses sebagai suatu rangkaian berkesinambungan.[8]
b.      Model Illuminatif
Model evaluasi illuminatif mendasarkan dirinya pada paradigma antropologi sosial.Model illuminatif memberikan perhatian terhadap lingkungan luas dan bukan hanya kelas dimana suatu inovasi kurikulum dilaksanakan. Bagi  Indonesia, perhatian yang luas dari model illuminatif memberikan kemungkinan pemahaman terhadap kurikulum suatu satuan pendidikan yang lebih baik. Ada dua dasar konsep utama, yaitu sistem instruksi (instructional system) dan lingkungan belajar (learning milieu).Sistem instruksional disini diartikan sebagai “katalog, perspektus dan laporan-laporan kependidikan yang secara khusus berisi berbagai macam rencana dan pernyataan yang resmi berhubungan dengan pengaturan dan pengajaran.[9]
c.       Model Responsive
Model ini merupakan pengembangan lebih lanjut model countenance Stake, meskipun beberapa hal terdapat perbedaan yang prinsipil. Pertama, model countenance mempunyai fokus yang lebih luas dibanding model responsive. Model countenance memberikan perhatian terhadap kurikulum sebagai suatu rencana, dalam model responsive, fokus yang demikian sudah ditinggalkan. Perbedaan kedua ialah dalam pendekatan pengembangan kriteria. Model countenance berdasarkan pengembangan kriteria fidelity, model responsive mengembangkan kriterianya berdasarkan pendekatan proses. Model responsive tidak berbicara tentang pemakaian instrumen standar, tetapi memberikan perhatian yang besar interaksi antara evaluator dengan pelaksana kurikulum. Tanpa interaksi tidak satupun  “isu” yang dapat diungkapkan.[10]

B.     Komponen dalam Evaluasi Kurikulum
1.      Komponen Tujuan
Tujuan merupakan hal penting dalam proses pendidikan, yakni hal yang ingin dicapai secara keseluruhan, yang meliputi tujuan domain kognitif, domain efektif, dan domain psikomotorik. Domain kognitif adalah tujuan yang diinginkan yang mengarah pada pengembangan akal dan intelektual anak didik, sedangkan tujuan domain psikomotorik adalah tujuan yang mengarah pada pengembangan keterampilan jasmani  anak didik. Tujuan pendidikan nasional pun menghendaki pencapaian ketiga domain yang ada secara integral dalam rangka memperoleh lulusan (output) pendidikan yang relevan dengan tujuan pendidikan nasional.[11]
Diadakannya evaluasi di dalam proses pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk keperluan:
a.       Untuk perbaikan program
b.      Pertanggungjawaban kepada berbagai pihak
c.       Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan.[12]
2.      Komponen Isi dan Struktur Program/ Materi
Komponen isi dan struktur program/ materi merupakan materi yang diprogramkan untuk mencapai tujuan evaluasi kurikulum yang telah ditetapkan.Isi atau materi yang dimaksud biasanya berupa materi bidang-bidang studi.
Konsep kurikulum yang menekankan isi, memberikan perhatian besar pada analisis pengetahuan baru yang ada, konsep situasi menuntut penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar, dan konsep organisasi memberikan perhatian besar pada struktur dan sekuens belajar.
Perbedaan konsep dan strategi pengembangan dan penyebaran kurikulum menimbulkan perbedaan rancangan evaluasi.Model evaluasi yang bersifat komparatif atau menekankan pada objektif sangat sesuai bagi kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan isi.[13]
3.      Komponen Metode/Strategi
Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan langsung dengan implementasi kurikulum.Upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah tersusun tercapai secara optimal, dinamakan metode.Ini berarti, metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.[14]
4.      Komponen Evaluasi/ Penilaian
Untuk melihat sejauh mana keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum, diperlukan evaluasi. Mengingat komponen evaluasi berhubungan erat dengan komponen lainnya, maka cara penilaian atau evaluasi ini akan menentukan tujuan kurikulum, materi atau bahan, serta proses belajar mengajar.
Dalam mengevaluasi, biasanya seorang pendidik akan mengevaluasi anak didik dengan materi atau bahan yang telah diajarkannya, atau paling tidak ada kaitannya dengan yang telah diajarkan. Hal ini sangat penting, mengingat hasil penelitian atau hasil yang dimiliki oleh anak didik tidak jarang menjadi barometer atas keberhasilan proses pengajaran pada suatu sekolah dan berkaitan erat dengan masa depan anak didik.
Lebih lanjut, penilaian sangat penting tidak hanya untuk memperlihatkan sejauh mana tingkat prestasi anak didik, tetapi juga suatu sumber input dalam upaya perbaikan dan pembaruan suatu kurikulum. Penilaian, dalam arti luas dapat dilakukan tidak hanya oleh pendidik, tetapi juga kalangan masyarakat luas dan mereka yang memang berwenang dalam pendidikan.[15]

C.    Tehnik Evaluasi Masing-Masing Model
1.      Model Evaluasi Kuantitatif
a.      Model Black Box Tyler
Konsep dari model ini, Tyler menghendaki evaluator dapat menentukan perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil belajar yang diperoleh dari kurikulum. Evaluasi kurikulum yang menggunakan model Tyler mestinya memerlukan informasi perubahan tingkah laku pada dua titik waktu yaitu sebelum dan sesudah belajar dari suatu kurikulum. Dalam istilah yang banyak digunakan sekarang diperlukan adanya tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest) untuk mengumpulkan kedua informasi tersebut.
Informasi yang diperoleh dari tes awal merupakan gambaran kemampuan awal peserta didik sedangkan informasi yang diperoleh dari hasil tes akhir menggambarkan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan melalui kurikulum tersebut.
Adapun prosedur pelaksanaan dari model evaluasi Tyler adalah sbebagai berikut:
1)      Menentukan tujuan kurikulum yang akan dievaluasi.
2)      Untuk memperlihatkan tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan.
3)      Menentukan alat evaluasi yang akan digunakan untuk megukur tingkah laku peserta didik.[16]
b.      Model Teoritik Taylor dan Maguire
Dalam melakukan model ini, ada dua kegiatan utama yang harus dilakukan oleh evaluator.Pertama, pengumpulan data objektif yang dihasilkan dari berbagai sumber mengenai komponen tujuan, lingkungan, personalia, metode dan konten, serta hasil belajar langsung maupun hasil belajar jangka panjang.Data tersebut dikatakan data objektif karena berasal dari luar pertimbangan evaluator.Kedua, pengumpulan data yang merupakan hasil pertimbangan individual terutama mengenai kualitas tujuan, masukan, dan hasil belajar. Unsur-unsur ini dimasukkan dalam suatu diagram yang terdiri atas empat matrik, yaitu matriks tujuan, penafsiran, strategi, dan hasil belajar.
Adapun cara kerja model evaluasi Taylor dan Maquaire ini adalah sebagai berikut:1) Dimulai dari adanya keinginan masyarakat terhadap pendidikan, selanjutnya keinginan tersebut dimanifestasikan dirinya berupa tekanan-tekanan atau tuntutan terhadap pendidikan.2) Evaluator mencari data mengenai keserasian antara tujuan umum dengan tujuan behavioral. Jadi, tujuan evaluator di sini bukan lagi mencari data antara tujuan dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat, tetapi mencari relevansi antara tujuan satuan pendidikan, kurikulum dan mata pelajaran yang berbeda-beda dalam tingkatan. 3) Mengevaluasi pengembangan tujuan menjadi pengalaman belajar. 4) Menelaah hasil belajar peserta didik.Peserta didik adalah subjek terakhir yang menentukan hasil dari suatu kegiatan belajar.Pada tingkat perkembangan ini, evaluator tidak hanya melihat hasil belajar yang bersifat langsung. Evaluator harus pula melihat apakah hasil belajar yang telah diperoleh itu dapat digunakan di lingkungan lain selain satuan pendidikan tersebut.[17]
c.       Model Pendekatan Sistem Alkin
Pemahaman model Alkin dan penerapannya memerlukan pengertian yang benar mengenai setiap komponen yang ada dalam model. Sistem luar adalah sistem yang mempengaruhi sistem dalam maupun sebagai sistem yang dipengaruhi oleh keluaran sistem internal. Faktor masukan terdiri atas komponen masukan peserta didik dan masukan keuangan, dan keduanya adalah masukan penting yang berpengaruh terhadap proses atau faktor perantara. Faktor perantara adalah faktor yang menggambarkan terjadinya suatu proses interaksi dari berbagai komponen pada faktor masukan. Tentu saja proses interaksi ini sangat menentukan hasil belajar atau faktor keluaran. Keluaran sistem terdiri atas keluaran peserta didik maupun keluaran bukan peserta didik.
Pada dasarnya, model pendekatan sistem Alkin dapat digunakan untuk melakukan kajian mengenai kurikulum di Indonesia.Meskipun demikian, variabel yang digunakan pada model ini tidak perlu diikuti secara ketat.Variabel tersebut dapat ditambah dan dikurangi.[18]
d.      Model Countenance Stake
Dalam model ini Stake sangat menekankan peran evaluator dalam mengembangkan tujuan kurikulum menjadi tujuan khusus yang terukur, sebagaimana berlaku dalam tradisi pengukuran yang behavioristik dan kuantitatif.
Dalam model Countenance Stake terdiri atas dua matriks yaitu:
1)      Matrik deskripsi adalah sesuatu yang direncanakan (intent) pengembang kurikulum dan program. Dalam konteks KTSP maka kurikulum tersebut adalah kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sedangkan program adalah silabus dan RPP yang dikembangkan guru. Kategori kedua adalah observasi, yang berhubungan dengan apa yang sesungguhnya sebagai implementasi dari apa yang diinginkan pada kategori pertama. Pada kategori ini evaluan harus melakukan observasi mengenai antecendent, transaksi dan hasil yang ada di satu satuan pendidikan atau unit kajian yang terdiri atas beberapa satuan pendidikan.
2)      Matriks Pertimbangan
Dalam matrik ini terdapat kategori standar, pertimbangan dan fokus antecendent, transaksi, autocamo (hasil yang diperoleh).[19]
e.       Model CIPP ( Context Input Process Product)
Evaluasi model CIPP ada garis besarnya melayani empat macam keputusan: 1) perencanaan keputusan, 2) keputusan pembentukan atau structuring, 3) keputusan implementasi, 4) keputusan pemutaran (Recycling). Untuk melaksanakan empat macam keputusan tersebut, ada empat macam fokus evaluasi, yaitu: 1) evaluasi konteks, 2) evaluasi input, 3) evaluasi proses, dan 4) evaluasi produk. Jika pada model Stake melanjutkan fokus evaluasi atas tujuan sebagai acuan dasar evaluasi. Pada model CIPP para evaluator mulai mengambil perhatian pada bentuk pemikiran lain dengan menganalisis guna menentukan keputusan apa yang hendak dibuat, siapa yang membuat, bagaimana jadwalnya, dan menggunakan kriteria apa? Hal yang menjadi pokok pertimbangan mencakup empat macam keputusan, yaitu: Context, Input, Procces, dan Product.[20]
2.      Model Ekonomi Mikro
Teknik model ini ialah evaluator yang menerapkan model cost effectiveness harus dapat membandingkan dua program atau lebih, baik dana yang digunakan masing-masing program maupun hasil yang diakibatkan oleh setiap program. Perbandingan hasil dari kedua program tadi akan memberikan masukan bagi para pembuat keputusan mengenai program mana yang lebih menguntungkan dilihat dari hubungan antara dana dan hasil.[21]
3.      Model Evaluasi Kualitatif
a.      Model Studi Kasus
Dalam menggunakan model evaluasi studi kasus, tindakan pertama yang harus dilakukan evaluator ialah familiarisasi dirinya terhadap kurikulum yang dikaji.Familiarisasi ini sangat penting sehingga dapat dikatakan bahwa evaluator yang tidak familiar terhadap kurikulum dan lingkungan satuan pendidikan yang mengembangkan dan melaksanakan kurikulum tidak boleh melakukan evaluasi.[22]
b.      Model Illuminatif
Konsep illuminatif menekankan pentingnya dilakukan evaluasi yang berkelanjutan selama proses pelaksanaan kurikulum sedang berlangsung. Gagasan yang terkandung di dalam konsep ini memang penting dan menunjang proses penyempurnaan kurikulum, karena pihak pengembang kurikulum akan memperoleh informasi yang cukup terintegrasi sebagai dasar untuk mengoreksi dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dikembangkan. Di samping itu, jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil evaluasi cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya.[23]
c.       Model Responsive
Model responsive memberikan perhatian terhadap interaksi antara evaluator dengan pelaksana kurikulum.Tanpa interaksi tersebut seorang evaluator jangan mengharapkan berhasil menerapkan model ini.[24]

IV.       KESIMPULAN
Model-model evaluasi kurikulum diantaranya adalah model evaluasi kuantitatif, model ekonomi mikro, model evaluasi kualitatif.Sementara komponen-komponen evaluasi kurikulum diantaranya adalah komponen tujuan, komponen isi dan struktur program/ materi, komponen metode/ strategi, dan komponen evaluasi/ penilaian.
Teknik evaluasi masing-masing model, untuk model evaluasi kuantitatif menggunakan model Black Box Tyler, model teoritik Taylor dan Maguire, model pendekatan sistem Alkin, model countenance Stake, dan model CIPP. Sementara untuk model evaluasi kualitatif mengggunakan model studi kasus, model illuminatif, dan model responsive.

V.          PENUTUP
Demikianlah makalah ini, kami sebagai penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan.Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran dari pembaca.Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan pada khususnya pemakalah sendiri.













DAFTAR PUSTAKA

Hasan, Hamid. 2009. Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Idi, Abdullah. 2014. Pengembangan KurikulumTeori dan Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sukardi.2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2012. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2012. Kurikulum & Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.



[1]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 188.
[2]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 194.
[3]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 200-202.
[4]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 206-208.
[5]Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, ( Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2008), hlm. 62-63.
[6]Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 118-119.
[7]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 223-224.
[8]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 228-229.
[9]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 233-234.
[10]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 236-237.
[11]Abdullah Idi, Pengembangan KurikulumTeori dan Praktik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 36.
[12] Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran,…hlm. 110-111.
[13]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.177-178.
[14]Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran,…hlm. 53-54.
[15]Abdullah Idi, Pengembangan KurikulumTeori dan Praktik,…hlm. 40.
[16]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 189-190.
[17]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 195-200.
[18]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 202-203.
[19]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 208-209.
[20]Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya,hlm. 63-64.
[21]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 223-234.
[22]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 229.
[23]Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran,…hlm. 116.
[24]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 237.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar