MODEL
– MODEL EVALUASI KURIKULUM
MAKALAH
Guna
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Kurikulum PAI Menengah
Dosen Pengampu:Dr.Fahrurrozi,
M.Ag.
Disusun
Oleh:
Muhammad Iqbal Reza
Majid 123311001
Wirda Nurfitriana 123311040
Kuntariatun 133311073
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Kehadiran pekerjaan evaluasi di bidang
pendidikan sebenarnya sudah lama, dapat dikatakan kehadiran evaluasi bersamaan
dengan kehadiran kegiatan pendidikan. Ketika suatu proses pendidikan
dilaksanakan oleh sekolah dan ketika guru mengambil sebagian dari tugas
orangtua dalam mendidik maka pada waktu itu pekerjaan evaluasi sudah hadir.
Dalam dunia pendidikan, istilah
kurikulum adalah istilah yang relatif baru dan istilah evaluasi kurikulum
berkembang pada masa ketika istilah kurikulum sudah digunakan dan baru dalam
dunia pendidikan.Namun, seiring dengan kemajuan zaman, evaluasi kurikulum dalam
pendidikan mulai berkembang.Salah satu perkembangannnya terlihat dengan
munculnya model-model evaluasi kurikulum yang berasal dari pemikiran para ahli
di dunia.
Dari uraian diatas, dalam makalah ini akan membahas
mengenai perbedaan model-model evaluasi kurikulum yang mencakup, model-model evaluasi
kurikulum, komponen dalam model evaluasi
model, dan teknik evaluasi masing-masing model.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A. Apa
saja model-model evaluasi kurikulum?
B. Apa
saja komponen dalam evaluasi kurikulum?
C. Bagaimana
tehnik evaluasi masing-masing model?
III. PEMBAHASAN
A.
Model-Model Evaluasi Kurikulum
1.
Model Evaluasi Kuantitatif
a.
Model Black Box Tyler
Model tyler dinamakan Black Box karena tidak ada nama resmi yang diberikan
oleh pengembangnya. Model ini dibangun atas dua dasar, yaitu : evaluasi yang
ditujukan kepada peserta didik dan evaluasi harus dilakukan pada
tingkah laku awal peserta didik sebelum suatu pelaksanaan kurikulum serta pada
saat peserta didik telah melaksanakan kurikulum tersebut. Berdasar pada dua
prinsip ini maka Tyler ingin mengatakan bahwa evaluasi kurikulum yang
sebenarnya hanya berhubungan dengan dimensi hasil belajar.[1]
b. Model
Teoritik Taylor dan Maguire
Model taylor ini lebih mendasarkan dirinya
pada pertimbangan teoritik suatu model evaluasi kurikulum. Dengan pertimbangan
teoritik, Taylor dan Maguire mencoba menerapkan apa yang seharusnya secara
teoritik terjadi dalam suatu proses pelaksanaan evaluasi kurikulum. Misalnya
model ini memperlihatkan variabel dan langkah yang ada dalam proses
pengembangan kurikulum sebagai variabel dan langkah yang juga harus ada dalam
evaluasi.
Dalam literatur yang mereka pergunakan tidak
tercantum dalam tulisan Tylor mengenai evaluasi, tetapi kajian terhadap model
ini memperlihatkan adanya pengaruh Tylor.[2]
c.
Model Pendekatan Sistem Alkin
Dalam pendekatannya Alkin membagi
medel ini atas tiga komponen, yaitu; masukan, proses yang dinamakannya dengan
istilah perantara, dan keluaran (hasil).Dalam model ini Alkin juga mengenal
adanya sistem internal yang merupakan interaksi antara komponen yang langsung
berhubungan dengan pendidikan, dan juga sistem luar (eksternal) yang mempunyai
pengaruh dan dipengaruhi oleh pendidikan.
Dengan menggambarkan dalam bentuk
elips, Alkin ingin mengemukakan bahwa terdapat tumpang tindih antara sub-sistem
yang ada.Sub-sistem tersebut memiliki karakteristik masing-masing sehingga
dapat dikaji terpisah. Model ini dikembangkan berdasarkan empat asumsi,
diantaranya:
1)
Variabel perantara adalah merupakan satu-satunya kelompok variabel yang
dapat dimanipulasi.
2)
Sistem luar tidak langsung dipengaruhi oleh keluaran sistem (persekolahan).
3)
Para pengambil keputusan tidak memiliki kontrol mengenai pengaruh yang
diberikan sistem luar terhadap sekolah.
4)
Faktor masukan memengaruhi aktivitas faktor perantara dan pada gilirannya
faktor perantara berpengaruh terhadap faktor keluaran.[3]
d.
Model Countenance Stake
Model Countenance adalah model
pertama evaluasi kurikulum yang dikembangkan oleh Stake. Dalam tulisan ini
stake mengemukakan keseluruhan kegiatan evaluasi yang harus dilakukan dan cara
yang diinginkannya bagaimana evaluasi tersebut dilakukan.
Stake mendasarkan modelnya pada
evaluasi formal, dimana dikatakan sebagai suatu kegiatan evaluasi yang sangat
tergantung pada pemakaian “cheklists, structured visitation by peers,
controlled comparisons, and standardized testing of student”.[4]
e.
Model CIPP ( Context Input
Process Product)
Model ini dikembangkan oleh
sebuah tim yang diketuai oleh stufflebeum. Model CIPP dalam kenyatannya lebih
dikenal masyarakat perguruan tinggi dan evaluator.Model CIPP ini tidak terlalu
menekankan pada tujuan suatu program, pada prinsipnya model ini konsisten
dengan definisi evaluasi program pendidikan tentang tingkatan untuk menggambarkan
pencapaian dan penyediaan informasi guna pengambilan keputusan alternatif.Model
CIPP ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi dasar pembuatan keputusan dalam
evaluasi sistem dengan analisis yang berorientasi pada perubahan
terencana.Batasan tersebut mempunyai tiga asumsi dasar.
1)
Menyatakan pertanyaan yang meminta jawaban dari informasi spesifik yang
harus dicapai.
2)
Memerlukan data yang relevan, untuk mendukung identifikasi tercapainya
masing-masing komponen.
3)
Menyediakan hasil informasi yang hasil keberadaannya diperlukan oleh para
pembuat keputusan peningkatan program pendidikan.[5]
Model evaluasi ini menggambarkan
cakupan evaluasi kurikulum yang cukup luas, tidak hanya mencakup aspek
pembelajaran saja sebagai implementasi kurikulum, namun keseluruhan aspek mulai
dari: konteks, masukan (input), proses dan produk atau hasil.
1)
Konteks
(Contect). Berkaitan dengan situasi atau latar belakang yang memengaruhi
terhadap pengembangan kurikulum tertentu yang di dalamnya terdapat jenis-jenis
tujuan, dan strategi pencapaian yang akan dikembangkan dalam kurikulum
tersebut.
2)
Masukan
(input). Berkaitan dengan bahan, peralatan, sarana, fasilitas yang
disiapkan, dan mendukung serta menjadi kelengkapan dari kurikulum yang
dikembangkan, seperti halnya: 1) dokumen kurikulum serta bahan ajar yang
dikembangkan; 2) staf pengajar; guru, dosen, instruktur yang disiapkan; 3)
sarana dan prasarana yang tersedia serta media pembelajaran yang digunakan.
3)
Proses
(process). Berkaitan dengan pelaksanaan nyata dari kurikulum yang
dikembangkan dalam bentuk proses belajar mengajar, baik di kelas (classroom
setting) maupun di luar kelas, baik kegiatan intra maupun ekstrakulikuler.
4)
Produk
(Produk). Berkaitan dengan keseluruhan hasil yang dicapai oleh
pengembang kurikulum tersebut termasuk produk dari hasil pembelajaran. Evaluasi
terhadap produk meliputi: 1) evaluasi jangka pendek, yaitu evaluasi terhadap
keberhasilan pembelajaran yang menitikberatkan pada pencapaian hasil belajar (summative
evaluation), artinya dalam pada aspek ini yang dievaluasi adalah bagaimana
peserta didik mampu menyelesaikan sebuah program pendidikan; 2) evaluasi jangka
panjang, memfokuskan pada evaluasi dampak (impact), artinya bahwa
keberhasilan kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan outcome, apakah
program pendidikan mampu atau tidak menghasilkan SDM yang berkualitas yang
relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia.[6]
2.
Model Ekonomi Mikro
Model ekonomi mikro pada dasarnya adalah model yang menggunakan pendekatan
kuantitatif, yang memiliki fokus utama pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil
belajar, dan hasil yang diperkirakan). Pertanyaan besar dari model ekonomi
mikro adalah apakah hasil belajar yang diperoleh peserta didik sesuai dengan
dana yang telah dikeluarkan. Menurut Levin (1983:17) ada empat model
di lingkungan ekonomi mikro yaitu cost-effectiveness, cost benefit, cost-utility,
dan cost feasibility.Dari keempat model ini maka model cost-effectiveness
yang paling sesuai untuk evaluasi kurikulum.[7]
3. Model
Evaluasi Kualitatif
a.
Model Studi Kasus
Model ini memusatkan perhatiannya kepada kegiatan pengembangan kurikulum di
satu satuan pendidikan.Unit tersebut dapat saja berupa satu sekolah, satu kelas
bahkan hanya seorang guru atau kepala sekolah.Karakteristik model ini adalah
data yang dikumpulkan terutama adalah data kualitatif.Data kualitatif kaya
dengan deksripsi dan dianggap lebih memberikan makna dibandingkan data
kuantitatif. Data kualitatif dianggap lebih dapat mengungkapkan apa yang
terjadi di lapangan. Proses yang direkam tidak dinyatakan dengan angka tetapi
dengan ungkapan menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam proses sebagai suatu
rangkaian berkesinambungan.[8]
b.
Model Illuminatif
Model evaluasi illuminatif
mendasarkan dirinya pada paradigma antropologi sosial.Model illuminatif
memberikan perhatian terhadap lingkungan luas dan bukan hanya kelas dimana
suatu inovasi kurikulum dilaksanakan. Bagi Indonesia, perhatian yang
luas dari model illuminatif memberikan kemungkinan pemahaman terhadap kurikulum
suatu satuan pendidikan yang lebih baik. Ada dua dasar konsep utama, yaitu
sistem instruksi (instructional system) dan lingkungan belajar (learning
milieu).Sistem instruksional disini diartikan sebagai “katalog,
perspektus dan laporan-laporan kependidikan yang secara khusus berisi berbagai
macam rencana dan pernyataan yang resmi berhubungan dengan pengaturan dan
pengajaran.[9]
c.
Model Responsive
Model ini merupakan
pengembangan lebih lanjut model countenance Stake, meskipun beberapa hal
terdapat perbedaan yang prinsipil. Pertama, model countenance mempunyai fokus
yang lebih luas dibanding model responsive. Model countenance memberikan
perhatian terhadap kurikulum sebagai suatu rencana, dalam model responsive,
fokus yang demikian sudah ditinggalkan. Perbedaan kedua ialah dalam pendekatan
pengembangan kriteria. Model countenance berdasarkan pengembangan kriteria fidelity,
model responsive mengembangkan kriterianya berdasarkan pendekatan proses. Model
responsive tidak berbicara tentang pemakaian instrumen standar, tetapi
memberikan perhatian yang besar interaksi antara evaluator dengan pelaksana
kurikulum. Tanpa interaksi tidak satupun “isu” yang dapat
diungkapkan.[10]
B.
Komponen dalam Evaluasi Kurikulum
1.
Komponen
Tujuan
Tujuan
merupakan hal penting dalam proses pendidikan, yakni hal yang ingin dicapai
secara keseluruhan, yang meliputi tujuan domain kognitif, domain efektif, dan
domain psikomotorik. Domain kognitif adalah tujuan yang diinginkan yang
mengarah pada pengembangan akal dan intelektual anak didik, sedangkan tujuan
domain psikomotorik adalah tujuan yang mengarah pada pengembangan keterampilan
jasmani anak didik. Tujuan pendidikan
nasional pun menghendaki pencapaian ketiga domain yang ada secara integral
dalam rangka memperoleh lulusan (output) pendidikan yang relevan dengan
tujuan pendidikan nasional.[11]
Diadakannya
evaluasi di dalam proses pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk keperluan:
a. Untuk
perbaikan program
b. Pertanggungjawaban
kepada berbagai pihak
c. Penentuan
tindak lanjut hasil pengembangan.[12]
2.
Komponen
Isi dan Struktur Program/ Materi
Komponen
isi dan struktur program/ materi merupakan materi yang diprogramkan untuk
mencapai tujuan evaluasi kurikulum yang telah ditetapkan.Isi atau materi yang
dimaksud biasanya berupa materi bidang-bidang studi.
Konsep
kurikulum yang menekankan isi, memberikan perhatian besar pada analisis
pengetahuan baru yang ada, konsep situasi menuntut penilaian secara rinci
tentang lingkungan belajar, dan konsep organisasi memberikan perhatian besar
pada struktur dan sekuens belajar.
Perbedaan
konsep dan strategi pengembangan dan penyebaran kurikulum menimbulkan perbedaan
rancangan evaluasi.Model evaluasi yang bersifat komparatif atau menekankan pada
objektif sangat sesuai bagi kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan
isi.[13]
3.
Komponen
Metode/Strategi
Komponen
ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab
berhubungan langsung dengan implementasi kurikulum.Upaya untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan
yang telah tersusun tercapai secara optimal, dinamakan metode.Ini berarti,
metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.[14]
4.
Komponen
Evaluasi/ Penilaian
Untuk
melihat sejauh mana keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum, diperlukan
evaluasi. Mengingat komponen evaluasi berhubungan erat dengan komponen lainnya,
maka cara penilaian atau evaluasi ini akan menentukan tujuan kurikulum, materi
atau bahan, serta proses belajar mengajar.
Dalam
mengevaluasi, biasanya seorang pendidik akan mengevaluasi anak didik dengan
materi atau bahan yang telah diajarkannya, atau paling tidak ada kaitannya
dengan yang telah diajarkan. Hal ini sangat penting, mengingat hasil penelitian
atau hasil yang dimiliki oleh anak didik tidak jarang menjadi barometer atas
keberhasilan proses pengajaran pada suatu sekolah dan berkaitan erat dengan
masa depan anak didik.
Lebih lanjut,
penilaian sangat penting tidak hanya untuk memperlihatkan sejauh mana tingkat
prestasi anak didik, tetapi juga suatu sumber input dalam upaya perbaikan dan pembaruan suatu kurikulum.
Penilaian, dalam arti luas dapat dilakukan tidak hanya oleh pendidik, tetapi
juga kalangan masyarakat luas dan mereka yang memang berwenang dalam
pendidikan.[15]
C.
Tehnik Evaluasi Masing-Masing Model
1.
Model Evaluasi Kuantitatif
a.
Model Black Box Tyler
Konsep dari model ini, Tyler menghendaki evaluator
dapat menentukan perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil belajar yang
diperoleh dari kurikulum. Evaluasi kurikulum yang menggunakan model Tyler
mestinya memerlukan informasi perubahan tingkah laku pada dua titik waktu yaitu
sebelum dan sesudah belajar dari suatu kurikulum. Dalam istilah yang banyak
digunakan sekarang diperlukan adanya tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest)
untuk mengumpulkan kedua informasi tersebut.
Informasi yang diperoleh dari tes awal merupakan gambaran kemampuan
awal peserta didik sedangkan informasi yang diperoleh dari hasil tes akhir
menggambarkan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti
proses pendidikan melalui kurikulum tersebut.
Adapun prosedur pelaksanaan dari model evaluasi Tyler adalah sbebagai
berikut:
1) Menentukan tujuan kurikulum yang
akan dievaluasi.
2) Untuk memperlihatkan tingkah laku
yang berhubungan dengan tujuan.
b.
Model Teoritik Taylor dan Maguire
Dalam melakukan model ini, ada dua kegiatan
utama yang harus dilakukan oleh evaluator.Pertama, pengumpulan data objektif
yang dihasilkan dari berbagai sumber mengenai komponen tujuan, lingkungan,
personalia, metode dan konten, serta hasil belajar langsung maupun hasil
belajar jangka panjang.Data tersebut dikatakan data objektif karena berasal
dari luar pertimbangan evaluator.Kedua, pengumpulan data yang merupakan hasil
pertimbangan individual terutama mengenai kualitas tujuan, masukan, dan hasil
belajar. Unsur-unsur ini dimasukkan dalam suatu diagram yang terdiri atas empat
matrik, yaitu matriks tujuan, penafsiran, strategi, dan hasil belajar.
Adapun cara kerja model evaluasi Taylor dan Maquaire ini adalah sebagai
berikut:1) Dimulai dari adanya keinginan masyarakat terhadap pendidikan, selanjutnya
keinginan tersebut dimanifestasikan dirinya berupa tekanan-tekanan atau
tuntutan terhadap pendidikan.2) Evaluator mencari data mengenai keserasian
antara tujuan umum dengan tujuan behavioral. Jadi, tujuan evaluator di sini bukan
lagi mencari data antara tujuan dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat,
tetapi mencari relevansi antara tujuan satuan pendidikan, kurikulum dan mata
pelajaran yang berbeda-beda dalam tingkatan. 3) Mengevaluasi pengembangan
tujuan menjadi pengalaman belajar. 4) Menelaah hasil belajar peserta didik.Peserta
didik adalah subjek terakhir yang menentukan hasil dari suatu kegiatan
belajar.Pada tingkat perkembangan ini, evaluator tidak hanya melihat hasil
belajar yang bersifat langsung. Evaluator harus pula melihat apakah hasil
belajar yang telah diperoleh itu dapat digunakan di lingkungan lain selain
satuan pendidikan tersebut.[17]
c.
Model Pendekatan Sistem Alkin
Pemahaman model Alkin dan
penerapannya memerlukan pengertian yang benar mengenai setiap komponen yang ada
dalam model. Sistem luar adalah sistem yang mempengaruhi sistem dalam maupun sebagai
sistem yang dipengaruhi oleh keluaran sistem internal. Faktor masukan terdiri
atas komponen masukan peserta didik dan masukan keuangan, dan keduanya adalah
masukan penting yang berpengaruh terhadap proses atau faktor perantara. Faktor
perantara adalah faktor yang menggambarkan terjadinya suatu proses interaksi
dari berbagai komponen pada faktor masukan. Tentu saja proses interaksi ini
sangat menentukan hasil belajar atau faktor keluaran. Keluaran sistem terdiri
atas keluaran peserta didik maupun keluaran bukan peserta didik.
Pada dasarnya, model
pendekatan sistem Alkin dapat digunakan untuk melakukan kajian mengenai
kurikulum di Indonesia.Meskipun demikian, variabel yang digunakan pada model
ini tidak perlu diikuti secara ketat.Variabel tersebut dapat ditambah dan
dikurangi.[18]
d.
Model Countenance Stake
Dalam model ini Stake sangat menekankan peran evaluator dalam
mengembangkan tujuan kurikulum menjadi tujuan khusus yang terukur, sebagaimana
berlaku dalam tradisi pengukuran yang behavioristik dan kuantitatif.
Dalam model Countenance Stake
terdiri atas dua matriks yaitu:
1)
Matrik deskripsi adalah sesuatu yang direncanakan (intent) pengembang
kurikulum dan program. Dalam konteks KTSP maka kurikulum tersebut adalah
kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sedangkan program adalah
silabus dan RPP yang dikembangkan guru. Kategori kedua adalah observasi, yang
berhubungan dengan apa yang sesungguhnya sebagai implementasi dari apa yang
diinginkan pada kategori pertama. Pada kategori ini evaluan harus melakukan
observasi mengenai antecendent, transaksi dan hasil yang ada di satu satuan
pendidikan atau unit kajian yang terdiri atas beberapa satuan pendidikan.
2)
Matriks Pertimbangan
Dalam matrik ini terdapat kategori standar, pertimbangan dan fokus
antecendent, transaksi, autocamo (hasil yang diperoleh).[19]
e.
Model CIPP ( Context Input
Process Product)
Evaluasi model CIPP ada garis besarnya melayani
empat macam keputusan: 1) perencanaan keputusan, 2) keputusan pembentukan atau
structuring, 3) keputusan implementasi, 4) keputusan pemutaran (Recycling).
Untuk melaksanakan empat macam keputusan tersebut, ada empat macam fokus
evaluasi, yaitu: 1) evaluasi konteks, 2) evaluasi input, 3) evaluasi proses,
dan 4) evaluasi produk. Jika pada model Stake melanjutkan fokus evaluasi atas
tujuan sebagai acuan dasar evaluasi. Pada model CIPP para evaluator mulai
mengambil perhatian pada bentuk pemikiran lain dengan menganalisis guna
menentukan keputusan apa yang hendak dibuat, siapa yang membuat, bagaimana
jadwalnya, dan menggunakan kriteria apa? Hal yang menjadi pokok pertimbangan
mencakup empat macam keputusan, yaitu: Context, Input, Procces, dan
Product.[20]
2.
Model Ekonomi Mikro
Teknik model ini ialah evaluator
yang menerapkan model cost effectiveness harus dapat membandingkan dua
program atau lebih, baik dana yang digunakan masing-masing program maupun hasil
yang diakibatkan oleh setiap program. Perbandingan hasil dari kedua program
tadi akan memberikan masukan bagi para pembuat keputusan mengenai program mana
yang lebih menguntungkan dilihat dari hubungan antara dana dan hasil.[21]
3. Model
Evaluasi Kualitatif
a.
Model Studi Kasus
Dalam menggunakan model evaluasi
studi kasus, tindakan pertama yang harus dilakukan evaluator ialah
familiarisasi dirinya terhadap kurikulum yang dikaji.Familiarisasi ini sangat
penting sehingga dapat dikatakan bahwa evaluator yang tidak familiar terhadap
kurikulum dan lingkungan satuan pendidikan yang mengembangkan dan melaksanakan
kurikulum tidak boleh melakukan evaluasi.[22]
b.
Model Illuminatif
Konsep illuminatif menekankan pentingnya dilakukan evaluasi yang
berkelanjutan selama proses pelaksanaan kurikulum sedang berlangsung. Gagasan
yang terkandung di dalam konsep ini memang penting dan menunjang proses
penyempurnaan kurikulum, karena pihak pengembang kurikulum akan memperoleh
informasi yang cukup terintegrasi sebagai dasar untuk mengoreksi dan
menyempurnakan kurikulum yang sedang dikembangkan. Di samping itu, jarak antara
pengumpulan data dan laporan hasil evaluasi cukup pendek sehingga informasi
yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya.[23]
c.
Model Responsive
Model
responsive memberikan perhatian terhadap interaksi antara evaluator dengan
pelaksana kurikulum.Tanpa interaksi tersebut seorang evaluator jangan
mengharapkan berhasil menerapkan model ini.[24]
IV.
KESIMPULAN
Model-model evaluasi kurikulum diantaranya adalah
model evaluasi kuantitatif, model ekonomi mikro, model evaluasi
kualitatif.Sementara komponen-komponen evaluasi kurikulum diantaranya adalah
komponen tujuan, komponen isi dan struktur program/ materi, komponen metode/
strategi, dan komponen evaluasi/ penilaian.
Teknik evaluasi masing-masing model, untuk model
evaluasi kuantitatif menggunakan model Black Box Tyler, model teoritik Taylor
dan Maguire, model pendekatan sistem Alkin, model countenance Stake, dan model
CIPP. Sementara untuk model evaluasi kualitatif mengggunakan model studi kasus,
model illuminatif, dan model responsive.
V.
PENUTUP
Demikianlah
makalah ini, kami sebagai penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan dan kesalahan.Kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya.Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran dari
pembaca.Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan pada khususnya pemakalah
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, Hamid.
2009. Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Idi, Abdullah. 2014. Pengembangan
KurikulumTeori dan Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sukardi.2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya.
Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2012. Pengembangan Kurikulum: Teori
dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[1]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2009), hlm. 188.
[4]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 206-208.
[5]Sukardi, Evaluasi
Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, ( Jakarta: Sinar Grafika Offset,
2008), hlm. 62-63.
[6]Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum &
Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 118-119.
[7]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 223-224.
[8]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 228-229.
[10]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 236-237.
[11]Abdullah Idi, Pengembangan KurikulumTeori dan Praktik,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 36.
[13]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.177-178.
[16]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 189-190.
[17]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 195-200.
[19]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 208-209.
[21]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 223-234.
[22]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 229.
[23]Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum &
Pembelajaran,…hlm. 116.
[24]Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,…hlm. 237.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar